Peristiwa yang belakangan ini membuming sehingga menjadi bahan
perbincangan diberbagai media. Peristiwa itu adalah kejahatan seskual terhadap
anak. Saking menariknya kejadian itu hingga menjadi berita yang menarik untuk
ditayangkan di berbagai media masa, baik cetak maupun elektronik. Berbagai
pendapat muncul menjadi opini yang terpublikasikan. Bahkan, ada yang ingin pelaku
harus dihukum mati agar setimpal dengan perbuatannya. Ada pula yang mengusulkan
untuk dibentuk undang-undang khusus untuk pelaku tindak seksual terhdap anak.
Sementara dilain sisi, ada hal yang menarik dari pernyataan Ibu
menteri Sosial, Khafifah: “mengusulkan kepada DPR untuk merumuskan
Undang-undang khusus untuk pelaku tindak pidana seksual dengan hukuman kebiri”.
Aturan itu dicetuskan agar menegaskan efek jera terhadap pelaku tindak pidana
seksual. Ketika memperhatikan perbuatan yang dilakukan oleh pelaku tindak
pidana seksual ini, menarik memang karena hal itu dilakukan dengan berbagai
cara, seperti rayuan dengan uang, dengan makanan, dengan bujukan nanti
diberikan sesuatu, misal HP, mainan dan sebagainya. Singkatnya corak pelaku
mendekati dan membujuk korbannya dengan berbagai macam cara sehingga visinya
tercapai.
Manusia mempunyai sifat resah, gelisah, gundah hingga rasa takut.
Lumrahnya, sifatnya ini muncul ketika manusia itu telah melakukan suatu
tindakan yang buruk. Ketika itu, maka muncullah sifat rasa ketakutan, resah dan
bingung. Dalam keadaan seperti itu terkadang manusia tidak mampu untuk
mengendalikan pikiran dan akal sehatnya sehingga muncullah sikap dan pebuatan
selanjutnya seperti membunuh dan lain sebagainya demi satu tujuan untuk
menghilangkan alat bukti kejahatan yang telah ia lakukan. Namun, apapun
persoalan yang terjadi di bumi pertiwi ini tidak akan pernah selesai dengn
hukum semata. Hal itu disebabkan satu hal yang sangat fundamental dan
sangat-sangat mendasar yaitu keteladanan. Bangsa ini kehilangan teladan, hilang
panutan, hilang tuntunan. Contoh yang mungkin seluruh rakyat indonesia ketahui.
Jokowi ketika menjabat sebagai Gubernur DKI ditanya apakah akan mencalonkan
diri sebagai presiden. Jawabnya sangat simple sekali “tidak”. Agaknya jawaban
itu sangat bagus karena pekerjaan di DKI sangat besar yaitu menjadikan ibukota
negara yang metroplitan yang tertata rapi dan indah, indah dari tatanan kota
dan indah dari kelakuan dan tindakan penghuninya. Tidak berhenti disitu,
setahun sudah menjabat sebagai presiden yang dikata orang sebagai simbol negara
tapi tak berbuat apa-apa untuk bumi pertiwi ini. Berat dikata “ya kapasitas
untuk DKI dipaksain ngatur Indonesia yang luas ini” itu sama saja anak SD
dikasih tugas mata kuliah. But, ya sudahlah ya. Sudah terlalu bohong dulunya.
Kalo dikaji lagi semakin terlihat belangnya.
Dari situ sudah terlihat kehilangan teladan, masak iya yang akan
diteladani pembohong. Bukan tidak percaya bahwa hukum mampu mejadi
panglima untuk kedamaian. Faktanya hari ini hukum tidak mejamin keadilan, tidak
bisa menjadikan faktor mendorong kedamaian, tidak menjadi pendorong untuk perubahan
nasib. Sesibuk apapun anggota Dewan terhormat merumuskan Undang-undang untuk
diterapkan, jika keteladanan dari pemimpin bangsa ini tidak ada, yakinlah tidak
akan ada kedamaian apa lagi bercita-cita
mejadi negara yang maju. Bermimpi untuk menjadi negara yang maju sementara
rakyatnya masih terbelakang karena jaminan pendidikan oleh pemerintah belum
merata, lapangan kerja tertutup dan malah terbuka untuk warga asing, entahlah
terlalu dalam mencari celah dan bobloknya negara ini. Hal itu ya kembali lagi
kepada pemimpinnya yang tak punya teladan. Coba pilih siapa pemimpin di negeri
ini yang patut diteladani?, susahnya nyarinya.
Ditukikkan pandangan pada anggota dewan yang pernah kita pilih yang
ditumpukan harapan dipundak mereka. Tapi, belum berbuat apa-apa sudah ada yang
terjerat kasus korupsi. Yachh Tinggal tepuk kepala sendiri sambil bergumam
dalam hati “apa dosa gua semalam sebelum milih dia sebagai anggota dewan?”. Tengok
pulalah pada misi yang didengung-dengungkan kepublik oleh pembantu presiden Revolusi
Mental. Sampai saat ini belum berefek apa-apa pada masyarakat bahkan situs
yang diluncurkan dengan uang rakyat tak bisa diakses. Yach sudah tepuk lagilah
kepala sendiri sambil berucap “capeh deeech”.
Rasanya kurang adil juga bila tak melihat pada keinginan presiden
untuk dirumuskan undang-undang larangan menghina presiden. Iya juga sich presiden tak boleh dihina, dicaci
maki, didemo beramai-ramai hingga cuitan para netizen di sosmed. Tapi apakah
segitunya melindungi presiden?. Sementra rakyatnya hidup tak aman karena nanti
mau makan apa, malam nanti mau tidur di mana lagi kian kemari diusur orang,
besar dijalanan jadi gembel, mereka yang terpaksa dirumahkan karena perusahaan
terkendala rupiah yang melemah. Belum lagi mereka yang berjuang mencari keadilan
karena HAM nya digerus, ditambah lagi guru honerer yang dijanjikan jadi PNS
apalagi komplik antar warga, terlalu banyak jika dikaji lagi. Belom lagi
persoalan asap di pulau sumatera dan kalimantan, anehnya sudah blusukan tapi
tak nemu siapa pelakunya. Jangan-jangan pelakunya kroni-kroninya juga, “lo
berani hukum gue,,?? Lo jadi presiden sebagian duitnye dari gue” kira-kira begitu kate pelakunya, tergigit dech
lidah jokowi. Jad,i apakah pantas presiden merengek-rengek minta dilindungi.
But, kalau simbol negera ini jadi panutan dan teladan penulis paling terdepan
unutk melindungi persiden. Hehehe
Boleh diperhatikan lagi dalam pesoalan kekinian, adanya keinginan
untuk membangkitkan semangat bela negara (wamil) dengan berdalih cinta negara
telah memudar semangat terhadap tanah air mulai tergerus waktu. Agaknya ini ada
benarnya juga, ya supaya rakyatnya kembali bisa dininabobokkan dengan semangat
dan cinta NKRI yang ujung-unjungnya yach supaya rakyat tertidur dalam
mimpi-mimpi indah yang pernah jadi nyata sementara elit pemimpinnya sibuk memakan
uang rakyat bagai api dalam sekam. Ya itu pun sih masih curiga aja, hehehe.
Tapi pantaslah rakyat selalu curiga. Sudah terlalu muak, telalu lama dibenturkan
ke dinding persakitan, terjajah oleh kepentingan partai dan golongan elit
penguasa, bermanis dibibir pahit yang kami rasakan. Kalaulah masih begini
mungkin cukup menundukkan kepala dengan tatapan kosong pada rumput yang
bergoyang.
Apa lagi..?? masih ada?? Tentu. Coba perhatikan pada keinginan
anggota dewan yang ingin dan justru ngotot bagai syahwat yang telah
berhari-hari tak tersalurkan berhasrat mengubah undang-undang KPK. Minta ini
dihapus itu, masa dibatasi dan segala macamanya, pendeknya yach dilumpuhkan.
Umpama orang tua yang dicopot tongkatnya yah pada akhirnya tersungkur terus
mati yang lain tertawa terbahak-bahak bagai kucing dapat ikan yang tak dijaga.
Sampai hari ini presiden diam saja, barangkali juga setuju kali yee.. oh ya
lupa (tepung jidad sendiri) yang ngusulkan kan elit parpol pendukung..
hahahaha.. kacau yo sabana kacau kalau pemimpin negeri seperti ini.
Rakyat harus menekur lagi, harapan dan masa depan hacur seketika bagai gadis
kecil yang habis diperkosa. Atau memang elit negeri ini pemangsa syahawat atau
penjahat kelamin. Entahlah penulis bingung verry-verry bingung... cukup tertawa
ckckckcckkkkk!!
Sekian..!!!!
No comments:
Post a Comment