Thursday, 17 April 2014

Aku ada atau jauh

Tak mungkin ku habiskan sisa waktu untuk menunggu jawaban yang tak akan pernah ada. Bersembunyi dibalik asa  berjalan diterangi sinaran masa lalu yang telah pergi?. Aku yakin itu bukan aku.

Jika kau menanti, maka tunggulah aku di sana  saat itu kau ada dalam segala hal. Tak usah kau sambut dengan tari gelombang atau ledakan meriam atau menatap dengan tatapan kosong. Aku ada semata tak rela tangisan kasih melihat sayang melambaikan tangan perpisahan, karena itu sangat perih.

Ini bukan perpaduan antara eratnya pelukan beton pada tiang-tiang besi, ini bukanlah tancapan anak panah yang terlepas dari busur. Tapi ini ikatan hati yang dipatri cairan kasih buliran sayang yang melekat erat.

Jangan biarkan kemudi ini aku hantamkan pada karang karena tak akan pernah kuat perahu kecil menentang badai yang menggunung.

Perihnya kehilangan setelah semua pergi. Saat itu, jangan lagi berharap  kasih, tak usah bermimpi tentang sayang, tak perlu berteriak "aku masih mencintaimu" karena saat itu tak berarti bagai butiran debu yang jatuh ke air, sirna tak berbekas. Pabila itu terjadi tak ada kisah yang pantas terukir indah dalam buku sejarah, tak ada cinta yang pantas dimuseumkan untuk disemai lagi, tak ada lagi yang patut terlukis indah dengan tinta emas dalam deary kehidupan walau hanya sebatas kenangan.