Saturday, 16 November 2013

Thursday, 14 November 2013

Goresan Tinta Cinta


Derasnya hujan semakin begemuruh saat sang bayu menerpa dedaunan kelapa dan dahan-dahan pinang di pinggiran jalan. Tumbuhan semua bergembira dahaga yang selama ini tertahan kini seolah tak terhabiskan. Kini tanaman takut berbunga. Rerumputan khawatir memekar. Seorang pengembara jalanan  duduk bertupang dagu di sebuah pos polisi sebelah tiang lampu lalu lintas. Dalam lamunan dia berbisik dalam jiwa.
"Aku bagaikan kumbang yang tak punya keberanian, bagaikan sampan kehilangan pendayung. Saat keberanian memuncak, dikala itu pula badai ketakutan menghantam gundukkan keberanian yang aku himpun. Dulu aku kecewa dan merasa benci saat merpati itu berkata “aku sudah punya malaikat cinta dan musim kawinpun menghampiri”. Perasaan berkecamuk bagaikan perang. Pedang tajam merobek hati, aliran darah kebencian mengucur deras. Laksana memikul beban berat mendengar si dia akan menikah, keringat dingin membasahi tiap pori-pori. Bisikan jahatpun mengusik “bawa lari dia agar keinginanmu tercapai mumpung ini rantau orang”. Untung malaikat jiwa memberi nasehat “relakan dia pergi dalam genggaman pemuda lain, relakan hatinya bahagia dengan sandaran yang baru, biarkan dia berlabuh di dermaga pernikahan, lapangkan jiwamu untuk melepaskannya”.
Hari-haripun kian berlalu, merpati putih mengepakkan sayap menuju harapan yang akan menjadi nyata. Istana pengantin menyeruak di pelupuk mata, bayangan ucapan selamat dari ribuan orang membuat bibir mungilnya melepas seuntai senyum penuh bahagia. Sementara aku bocah dungu yang baru belajar menghapus ingus hanya terdiam dalam lamunan panjang yang tak berkesudahan  terombang ambing dalam gelombang perasaan. Terkadang dalam sedih seuntai senyum mengepak, tak jarang pula dalam tawa isak deraian cairan bening mengalir tak tertahankan.
Berhari-hari lamunan itu tak ada penyelesaian laksana laut tak bertepi atau bagaikan perjalanan yang tak tahu kapan akan berakhir, semua terasa hampa. Dalam lamunan panjang yang kunjung berakhir menyelusup kabar yang mengagetkan, dikala lampu jalanan mulai menyela menggantikan mentari yang mulai meredup. Safak merah menguntip dibalik nyiur bak melambaikan tangan perpisahan. “aku batal menikah”.
Kata yang menghantam bathin keropos. Satu sisi kabar gembira betapa tidak, karena ini lamunan panjang bagaikan aliran air dari sumber di kaki bukit hingga bermuara dilautan lepas. Rasa gembira umpama kehilangan cahaya dalam gua kegelapan diterpa cahaya putih dari kejauhan sedikit bisa memulai langkah. Kesempatan kembali terbuka lebar untuk melangkah maju dibalik puing-puing asa yang berderai. Namun disisi yang berbeda, rerumputan khawatir memekar. Takut yang menguntip kebahagiaan datang seolah-olah tak rela senyumanan indah menggantikan lamunan panjang selama ini.
Aku bingung, apakah aku harus manfaatkan kesempatan langka ini,? Atau aku biarkan begitu saja seolah tak peduli biar kelak menjadi sampah laksana dedaunan yang jatuh dan berserakan di musim gugur. Perang dalam bathin semakin berkecamuk, ujung pedang melukai hati. Siapa yang akan jadi pemenang dan merebut harta rampasan perang ini???"

Bersambung.!!!