Wednesday, 10 April 2013

Air Mata Talqin DI Atas Pusara Cinta



Bencilah aku saat hati ini masih menginginkanmu

Bencilah aku saat bibir ini berkata "kembalilah kepadaku"

Semailah bibit dendam di hatimu saat hati ini masih berkehendak bilang " I love You"

Tancapkalah Belati di dada ini saat aku masih memintamu untuk bersamaku

                 Tapi......!!!!

Mulailah membuka hati saat raga ini  mulai diselimuti kain putih
     Cintailah aku saat jasad ini terbaring dalam liang kecil tak berpintu
            Ucapkanlah "aku sangat mencintaimu" saat gumparan tanah mulai membenamkan raga ini
                    Katakanlah "aku takut kehilanganmu" saat tanah merah melenyapkan tubuh ini dalam perutnya
                           Teteskanlah air mata pilu mu saat namaku terlukis indah di goresan batu nisanku
                                 Usaplah airmata yang membasahi  wajah ayumu saat air Talqin mulai menyirami istana baruku
                          Berteriak-lah sekeras-kerasnya saat tujuh  langkah terakhir pengantarku kembali..




                                                         Untuk mengenang yang telah mati di Hatimu
                                                          Padang, 10, April 2013 By Yusrizal At Taramy

Wednesday, 3 April 2013

SBY (Si Buyung) Episode II


SOLOK DAERAH PERANTAUAN
Kokok ayam jago menandai pagi telah datang menyudahi alunan mimipi-mimpi penghias  tidur, tetesan embun mulai berhenti walau hanya untuk membasahi kuntum bunga mawar yang mau mekar. Cahaya rembulan penghias malam berangsur redup seiring fajar memancarkan sinarnya. Pesona subuh semakin indah ditambah oleh riak-riak kecil air di Tabek Gadang diterpa angin sepoi-sepoi. Kumandangan azan subuh menyetakkan asa membangkit semangat untuk kembali menghadap kepadaNya. Dingin udara subuh tak jadi penghalang untuk tetap berkata denganNya. Harapan semoga kasihNya tetap mengalir. Aamiin jadi kata penutup ubudiyah pada subuh itu.
Persiapan berangkat pun dimulai. Merantau menjadi keputusan, tanah Solok jadi pelabuhan hidup selanjutnya Kas dan keluarga kecilnya. Kita mau kemana Mak (panggilan anak kepada ibu bagi orang minangkabau) Tanya Upik kepada ibunya yang sedang mengemas pakaian ke dalam tas. Kita akan pergi jalan-jalan sayang naik bus. Naik bus mak..? ya sayang (sambil mengajak)  yuk Pik kita mandi lagi. Upik dengan senang hati mengikuti ajakan maknya. Kas yang sedang berkemas-kemas sambil menikmti secangkir kopi pun ikut tersenyum kecil mendengar perkataan Ani dan upik anyaknya. Sementara Si Buyung masih tertidur nyenyak dalam ayunan buayan.
Suara lonceng Sekolah Dasar Negeri 19 Balai Cubadak menandakan bahwa seluruh murid-murid untuk memasuki kelas pertanda pelajaran pertama akan segera dimulai, itu telah menjadi pertanda bagi penduduk hari telah menunjukkan pukul 07.30 pagi. Biasanya aktifitas petani dimulai dari jam itu. Ani..!!! suara seseorang memanggil Ani dari halaman rumah. Ya.. (sambil menoleh dari jendela).. ada apa Buk (panggilan di keluarga kepada Kakak Ani) ternyata Buk yang memanggil. Naiklah jawaban Ani sambil terus menyisir rambut Upik.
Buk : begini Ani.. !! Menurut saya si Upik tak usah dibawa merantau.
Ani : Kenapa Buk bicara begitu?? Tanya Ani sambil berkema-kemas.
Buk : Upik sebentar lagi mau sekolah, mungkin tak sampai setahun lagi tahun ajaran baru di mulai, lagian di rantau belum tentu lansung dapat bekerja, kami kwatir nanti anak-anakmu menderita di sana. Nanti kalo kalian sudah merasa cukup untuk keperluan sehari dan bisa menyekolahkan Upik ya  kita pindahkan sekolah Upik ke sana.
Kas : Mungkin buk mu benar Ani. Kita belum tentu sampai disana lansung dapat pekerjaan takutnya nanti anak kita sakit padahal Upik mau sekolah.
Ani : Tapi da. Dia pasti akan merindukan kita dan dia masih butuh kasih sayang kita da.!!
Kas : iya betul..!! ini bukti sayang kita kepada Upik. Lagian di sini dia ada Buk yang akan merawatnya, ada Pita, Rian (dua dari tiga anak Buk) yang akan menjaganya. Saya yakin mereka sanggup mengasuh Upik.
Buk : Betul Ani..!! kami akan merawat Upik, dia anak ku juga..!! nanti kami bawa Upik ke SMP (tempat tinggal Buk dan Keluarganya di Lokasi SMP N 2 Taram yang suaminya bekerja sebagai penjaga sekolah dan Buk sendiri sebagai penjaga kantin sekalian berjualan makanan ringan untuk anak-anak SMP).
Ani : Tapi aku tak bisa berpisah dengan anak kesayanganku.. (sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya).
Kas : Tenanglah Upik akan aman tinggal bersama Buk, nanti sekali 3 bulan salah satu dari kita pulang untuk bertemu Upik, atau nanti kalau kita berhasil kita kirimin uang belanja untuk Upik di sini bersama teman Mamakmu. (berusaha meyakinkan istrinya).
Buk: Upik… sini nak kita ke warung yuk,!! Kita jajan (berusaha untuk membujuk Upik dan menipunya agar kepergian Mak dan Bapaknya tidak diketahui upik)..
Kas: ayo nak pergilah bersama Buk. Ke warung nanti Bukmu beliin jajan yang enak (meyakinkan anaknya dengan suara agak berat). Sementara Ani hanya bergumam sambil berkata Tiada seorang ibu yang sanggup berpisah dengan anak yang disayang. Ucapan Ani sambil menghapus air matanya dengan kain panjang yang biasa dijadikan kain pendukung bayi.
Buk : Ayo Pik.. nanti jajannya keburu habis (sambil berdiri dan berusaha megendong Upik sembari berusaha menutupi kesedihannya). Nanti kalian pergi mulailah dengan bismillah dan senyum (nasihat buk kepada Ani dan Kas.)
Upik: Ayo lah Buk.. (mengikuti ajakan Buk dengan kepolosannya).
Detak jarum jam di dinding menunjukkan pukul 08.15 WIB dengan berat hati Ani meninggalkan buah hatinya dan mencoba melangkah sambil menggendong Si Buyung dengan kain panjang (Kain panjang batik yang di Minang biasa di gunakan untuk menggendong bayi). Kas menyandang ransel dan bungkusan kecil di kepalanya sebagai perbekalan hidup pertama di Solok. Ayunan langkah mereka sempat terhenti sembari menoreh ke belakang memperhatikan hampir setiap sisi Rumah Gadang (Rumah Adat khas Minang Kabau) yang selama ini menjadi tempat berteduh dari kepanasan, berlindung dari hujan, tempat menghabiskan masa-masa kecil, yang kini harus ditinggalkan demi menatap masa depan bersama suami yang diharapkan lebih cerah bahkan kalau bisa mampu mengalahkan cerahnya mentari pagi.
Langkah demi langkah terus diayunkan, terminal Koto Nan Ampek di pusat Kota Payakumbuh jadi tujuan awal. Tempat ini satu-satunya terminal yang ada bus tujuan payakumbuh kota Solok. Gontaian langkah mereka sampai di Pakan Taram (pasar tradisional di Nagari Taram). Tiba-tiba si Buyung menangis, mungkin karena gerah mentari pagi semakin memperlihatkan garangnya. Kas dan Ani mencari tempat yang agak teduh dari sinaran menatari. Mereka duduk dibawa pohon mangga di tepi jalan sembari menunggu Bendi (Delman) yang merupakan satu-satunya alat transportasi dari Taram ke pusat Kota Payakumbuh. Tak lama kemudian Bendi yang di tunggu-tunggu datang. Tak tik tuk tak tik tuk suara sepatu kuda menemani perjalanan menuju terminal yang berjarak lebih kurang 8 KM.
Ani yang berkaca-kaca seolah-olah tak bersedia meninggalkan Upik menemani lamanya perjanan. Suara sepatu kuda terhenti di pelataran terminal Koto Nan Ampek kota Payakumbuh. Ani dan Kas turun dari Bendi dan Kas membayar ongkos kepada Kusir Bendi “ini pak terima kasih telah mengantarkan kami sampai di sini”. “ ya sama-sama, hati-hati di rantau orang” jawab Pak Kusir sembari memutar balik Bendinya. Tunggu di sini sebentar ya kata kas kepada Ani sambil melangkah menuju PO Afmomen untuk membeli karcis bus. Tak lama kemudian Kas kembali sembari mengangkat barang “yuk kita naik bus yang berwarna kuning itu, sebentar lagi bus berangkat kata Kas kepada Istrinya.

Poooooooooooopppp..!!! suara klakson bus menjadi pertanda tidak beberapa lama lagi perjalan akan segera di mulai. Kas dan Ani duduk berdampingan dan Si Buyung kini dalam pangkuan bapaknya. Tak ada percakapan diantara mereka hampir sempanjang perjalanan. Ani yang masih memikirkan Upik putrinya hanya terdiam seribu bahasa. Ani yang berkaca-kaca terus memandangi gerak semu setiap benda yang dilihat dari kaca bus yang terus melaju melewati tikungan, tanjakan, melewati lembah mendaki perbukitan suasa perjalanan.
Pemandangan silih berganti dari rerumputan  ke pepohonan hingga lautan lepas menghiasi indahnya perjalanan. Tikungan, perdakian hinga turunan tajam menghiasi medan jalan melintasi lembah sisi lain dalam perjalan Payakumbuh - Solok. Tiada suara apa lagi kata, yang ada hanya menguap serta rasa mengatuk yang menerpa hingga tidur dalam ayunan laju Bus Afmomen.
Pukul 12.00 WIB bus berhenti di depan danau Singkarak, tepian danau telah menjadi perhentian sesaat bagi para sopir-sopir bus meski hanya sedekar melepas lelah dari rutinitas memutar stir kemudi atau hanya demi secangkir kopi dan sebatang rokok. Pemandangan danau dan hembusan bayu membawa kedamaian, suasana yang adem membawa kenyaman tersendiri. Suara klakson bus menyeruap keheningan suasan menyuarakan perjalanan akan di mulai lagi. Kas dan Ani kembali duduk berdampingan, tak berapa lama kemudian Ani buka bicara menghentikan kebisuan yang telah menerpa mereka dari Payakumbuh ke Danau Singkarak. “Da..! lihat kaki Si Buyung ada taik lalatnya” mana..? jawab Kas seolah penasaran.. Ini da di telapak kaki dekap tumitnya sebelah kanan. Sambil terseyum kas menjawab itu pertanda anak kita akan merantau nanti, dia akan melihat banyak hal di dunia ini. J semoga saja ya da.. sambil tersenyum Ani mengamini perkataan suaminya. Do’a kita untuk Si Buyung semoga hidupnya lebih baik dari pada kehidupan kita saat ini. Aamiin.
Keasikan bercerita dalam mimpi-mimpi indah, tak terasa perjalan telah memasuki Kota Solok. Terminal bareh solok jadi pelabuhan terakhir Bus Afmomen. Sementara menunggu armada selajutnya Kas dan keluarganya beristirahat sebentar di tampat tunggu penumpang yang disediakan oleh ihak penglola terminal. “tunggu disini sebentar ya” uacap Kas kepada Ani “saya ke sana sebentar untuk mencari informasi naik mobil apa ke daerah Bukit Sile. “ya hati-hati..!! jawab Ani sambil tersenyum, sementara Si Buyung tertidur pules dalam pengkuan Ibunya. “jangan lupa beli minuman ya da.!! Sorak Ani mengingatkan suaminya yang telah manjuh darinya.
Lima menit kemudian Kas pun datang seraya berkata “sebentar lagi ada mobil yang akan menju bukit sile, moga jam 4 sore kita sudah sampai”. “kalo begitu masih bisa kita untuk sholat zhuhur dulu da sekalian jamak untuk azhar” ucapan Ani kepada suaminya. Ayolah kata Kas sembari menujuk tu disana ada mushalla, ayo kita kesana. Mereka pun menunaikan ubudiyah sembari berdo’a semoga apa yang menajdi tujuan tercapai. Aamiin.
Tak berapa lama setelah selesai sholat mobil pun dating dan perjalana ke bukit sile pun dimulai. Kali ini mereka duduk di depan di sampir sopir yang mengendalikan lajunya kendaraan, maklum mobil tumpangan mereka adalah jenis truk muatan barang-barang dagangan harian ibu-ibu di pasar Solok. Laju truk melintasi perbukitan akhirnya terhenti di halaman rumah Bu Maisarni, begitu orang-orang sekitar memanggil nama jurangan tembakau di desa itu. Kas dan keluarnya pun turun dari truk dan Kas pun membayar uang sebagai ongkos truk. Namun reski datangnya tidak harus mengetok pintu, sopir itu baik hati dan tidak mau menerima ongkos kas dan keluarganya Pak sopir beralasan truk itu biasa digunakan untuk mengangkut barang-barang dagangan dan sudah dibayar oleh para saudagar, dan pak sopir pun telah biasa member tumpangan kepada orang-orang yang membutuhkan tumpangan sembari jadi teman cerita di perjalan. Hanya ucapan terima kasih yang bisa diucapkan Kas dan keluarganya kepada pak sopir yang baik hati itu.
Assalamu’alaikum…!!! Tok tok tok (ucapan salam sambil mengetok pintu rumah Bu Maisarni), tak beberapa saat kemudian pintu pun terbuka sembari “waa’laikum salam” sesorang membuka pintu rumah. Kas ya..? kata perempuan yang membukakan pintu. Betul Bu kata kas. “ya silahkan masuk” ucap perempuan itu. Ternyata perempuan itu adalah Bu Maisarni yang dulu pernah diceritakan oleh Mamak Ani sebelum berangkat untuk merantau. Keasyikan bercerita dan bincang-bincang seputar perkenalan, azan magrib pun berkumandang di surau tak beberapa jauh dari ruma Bu Maisarni menyudahi perbincangan dipenghujung senja.


       Nantikan SBY (Si Buyung) episode selanjutnya... akan ada kisah lucu dan sedih menyelimuti masa kanak-kana Si Buyung...!!!!!