Blog ini Hanyalah Belajar Membuka Imajinasi dan Sebagai Pembuktian bahwa Tuhan Maha pemilik Cinta
Saturday, 16 November 2013
Thursday, 14 November 2013
Goresan Tinta Cinta
Derasnya
hujan semakin begemuruh saat sang bayu menerpa dedaunan kelapa dan dahan-dahan
pinang di pinggiran jalan. Tumbuhan semua bergembira dahaga yang selama ini
tertahan kini seolah tak terhabiskan. Kini tanaman takut berbunga. Rerumputan
khawatir memekar. Seorang pengembara jalanan duduk bertupang dagu di sebuah pos polisi sebelah tiang lampu lalu lintas. Dalam lamunan dia berbisik dalam jiwa.
"Aku bagaikan kumbang yang tak punya keberanian, bagaikan
sampan kehilangan pendayung. Saat keberanian memuncak, dikala itu pula badai
ketakutan menghantam gundukkan keberanian yang aku himpun. Dulu
aku kecewa dan merasa benci saat merpati itu berkata “aku sudah punya malaikat
cinta dan musim kawinpun menghampiri”. Perasaan berkecamuk bagaikan perang.
Pedang tajam merobek hati, aliran darah kebencian mengucur deras. Laksana
memikul beban berat mendengar si dia akan menikah, keringat dingin membasahi tiap
pori-pori. Bisikan jahatpun mengusik “bawa lari dia agar keinginanmu tercapai
mumpung ini rantau orang”. Untung malaikat jiwa memberi nasehat “relakan dia
pergi dalam genggaman pemuda lain, relakan hatinya bahagia dengan sandaran yang
baru, biarkan dia berlabuh di dermaga pernikahan, lapangkan jiwamu untuk
melepaskannya”.
Hari-haripun
kian berlalu, merpati putih mengepakkan sayap menuju harapan yang akan menjadi
nyata. Istana pengantin menyeruak di pelupuk mata, bayangan ucapan selamat dari ribuan
orang membuat bibir mungilnya melepas seuntai senyum penuh bahagia. Sementara
aku bocah dungu yang baru belajar menghapus ingus hanya terdiam dalam lamunan
panjang yang tak berkesudahan terombang
ambing dalam gelombang perasaan. Terkadang dalam sedih seuntai senyum mengepak,
tak jarang pula dalam tawa isak deraian cairan bening mengalir tak tertahankan.
Berhari-hari
lamunan itu tak ada penyelesaian laksana laut tak bertepi atau bagaikan
perjalanan yang tak tahu kapan akan berakhir, semua terasa hampa. Dalam lamunan
panjang yang kunjung berakhir menyelusup kabar yang mengagetkan, dikala lampu
jalanan mulai menyela menggantikan mentari yang mulai meredup. Safak merah
menguntip dibalik nyiur bak melambaikan tangan perpisahan. “aku batal menikah”.
Kata
yang menghantam bathin keropos. Satu sisi kabar gembira betapa tidak, karena
ini lamunan panjang bagaikan aliran air dari sumber di kaki bukit hingga
bermuara dilautan lepas. Rasa gembira umpama kehilangan cahaya dalam gua
kegelapan diterpa cahaya putih dari kejauhan sedikit bisa memulai langkah. Kesempatan
kembali terbuka lebar untuk melangkah maju dibalik puing-puing asa yang
berderai. Namun disisi yang berbeda, rerumputan khawatir memekar. Takut yang
menguntip kebahagiaan datang seolah-olah tak rela senyumanan indah menggantikan lamunan
panjang selama ini.
Aku
bingung, apakah aku harus manfaatkan kesempatan langka ini,? Atau aku biarkan
begitu saja seolah tak peduli biar kelak menjadi sampah laksana dedaunan yang
jatuh dan berserakan di musim gugur. Perang dalam bathin semakin berkecamuk, ujung pedang melukai hati. Siapa yang akan jadi pemenang dan merebut harta rampasan perang ini???"
Bersambung.!!!
Bersambung.!!!
Sunday, 20 October 2013
Lembaran Kenangan Membawa Pilu Di Pergantian Waktu
My Book..!!!
Dengarkan keresahan jiwaku dikesunyian malam ini, waktu telah berputar begitu jauh, masa-masa itu telah pergi bersamaan dengan kabut-kabut sejarah yang terlukis indah dalam deary kehidupan yang dulu pernah kita jalani. kini malampun telah sunyi dari aktifitas manusia. hanya tinggal alunan suara jengkrik mengalunkan melodi-melodi, suara-suara kodok dibalik tumpukan batu seakan-akan meminta agar malam ini diturunkan hujan, semua sepi hingga dedaunanpun tak goyah oleh terpaan bayu.
Semua orang telah terbuai dengan tidur dan mimpi indanya, tapi aku gelisah, gundah, resah, sedih, pilu. memori lama kembali terbuka dalam ingatan dan lamunan panjangku laksana tumpukan kertas ditiup angin, tulisan itu terlihat. hati ini luka laksana berkas lama teiris lagi. Oh mengapa? aku tak tahu,, aku tak tahu,, mengapa ini,,? aku memang telah melepaskan merpati putih kesayanganku untuk terbang membara di udara bebas. aku telah berbuat apa yang tidak dikehendaki ibuku. Ibu maafkan aku anakmu yang masih menaruh cinta pada merpati yang kini terbang entah kemana..
Kasih, ketahuilah..!! aku melepaskanmu bukan karena tak mau berjuang, aku melepaskanmu bukan karena tak lagi mencintaimu, bukan karena memilih yang lain. tetapi kasih!! ini semua ku lakukan hanya sebatas aku tak mau lagi menangis, merengek ibarat anak kecil yang menghiba pada orang tuanya untuk minta agar diberi uang jajan. Aku tak ingin keikhlasannya runtuh dan memudar karena air mata permintaanku, aku tak ingin restu yang ku dapat dari kasihan dan rasa hiba pada anaknya. jujur kasih..!!! aku tak ingin.. aku tak ingin kasiiiiiihhhh...
Kasiih!!! mungkin menurut mu ini hanya ego ku yang terlampau tingggi. tapi inilah pilihan yang telah aku ambil. "aku tidak ingin air mata ibu mengalir membasahi kerutan-kerutan di pipinya terbuang karena kasihan, aku tidak ingin air matanya menetes karena rengekkanku, bagiku air mata yang terbuang karena ulahku adalah satu dosa bagiku".
Maafkan aku kasih..! lewat angin malam ku kirimkan do'a untukmu yang kini entah dimana. pada hati siapa kau berlabuh, dipelabuhan mana kau terdampar, dirimbun pohon mana kau berteduh, di bahu mana dikau bersandar, pada jiwa mana kau curahkan perasaanmu. aku tak tau.. Semoga kau bahagia, semoga jiwamu lapang laksana samudera yang tak bertepi atau bagaikan pegunuanan dan perpohonan yang menghijau hingga kaki-kai langit jadi pembatas, keadaan ini, takdir ini, akan memperluas kedewasaanmu, ketahuilah kasih tuhan maha adil, tuhan sangat cinta dengan kita, Di dunia kita tidak bersatu, semoga di alam sana kau jadi bidadari tercantik untuk asmara yang pernah kita jalin.
Pengembara Jalanan
Yang Mencari Cinta
Yusrizal At Taramy
Thursday, 1 August 2013
"DIA"
Dia akan datang pada yang muda
akan menghampiri yang telah matang
tanpa membedakan status dan jenis kelamin
terkadang datang tanpa pemberitahuan
sering juga datang di saat-saat yang penuh indah dan kenangan
namun tak jarang datang tanpa sebab dan kemungkinan
orang-orang dan para ahli menamaknnya dengan "kematian"
kematian adalah sebuah misteri kehidupan tanpa diketahui kapan dan dimana dia datang.
Ulama mengatakana itu "rahasia tuhan"
begitu juga degan cinta. cinta dan kematian adalah dua hal yang sama
tapi beda yang keduanya mengandung rahasia dan misteri yang tak
terpecahkan oleh akal dan kemampuan imajimasi. sama halnya dengan
kematian, cinta datang dan pergi tanpa terdeteksi, namun terkadang
meninggalkan tanda dan sebab yang mampu meningglkan bekas dan kesantersendiri bagi siapa saja yang merasakan dan menikmatinya.
barangkali sebahagian dari tanda kematian adalah tumbuhnya uban yang
mulai bertaburan, gigi mulai
berguguran,kulit berangsur keriputan,
kata-kata mulai tak kauran. agakya sama dengan cinta. tapi
entahlah...!!!!
yang jelas misteri diatas misteri
"apakah kematian sehagian dari tanda-tanda cinta?"
Padang, 01-08-2013
By Yusrizal At Taramy
Monday, 27 May 2013
It's Me
Aku hanyalah bocah dungu yang terlahir atas nama Cinta
Oleh sebab itu cintalah yang menjadi inspirasi hidupku
Hidup bertemankan cinta matipun hanya untuk cinta
Kini waktuku telah mamsuki usia zhuhur
Mentari tak lagi memberi manfaat
tapi hanya menyengat bathin yang tandus dan gersang
Citaku tertinggal hanyalah meminang gadis ayu yang hampir matang
buah terakhir dari ranumnya buah indahnya tangkai dari rindangnya dedaunan
Aku hanya tak ingin bagaikan cacing yang basah kuyup diterpa hujan
Atau seperti luka perih tangisan gadis kecil yang ibunya mati jadi
korban perkosaan kejahatan malam
atau bak kupu-kupu baru jadi tapi tak mendapat madu
Jeritan Bujang Malang Di malam Minggu
Padang, 26 - 05 - 2013
Yusrizal At Taramy
Wednesday, 10 April 2013
Air Mata Talqin DI Atas Pusara Cinta
Bencilah aku saat hati ini masih menginginkanmu
Bencilah aku saat bibir ini berkata "kembalilah kepadaku"
Semailah bibit dendam di hatimu saat hati ini masih berkehendak bilang " I love You"
Tancapkalah Belati di dada ini saat aku masih memintamu untuk bersamaku
Tapi......!!!!
Mulailah membuka hati saat raga ini mulai diselimuti kain putih
Cintailah aku saat jasad ini terbaring dalam liang kecil tak berpintu
Ucapkanlah "aku sangat mencintaimu" saat gumparan tanah mulai membenamkan raga ini
Katakanlah "aku takut kehilanganmu" saat tanah merah melenyapkan tubuh ini dalam perutnya
Teteskanlah air mata pilu mu saat namaku terlukis indah di goresan batu nisanku
Usaplah airmata yang membasahi wajah ayumu saat air Talqin mulai menyirami istana baruku
Berteriak-lah sekeras-kerasnya saat tujuh langkah terakhir pengantarku kembali..
Untuk mengenang yang telah mati di Hatimu
Padang, 10, April 2013 By Yusrizal At Taramy
Wednesday, 3 April 2013
SBY (Si Buyung) Episode II
SOLOK
DAERAH PERANTAUAN
Kokok
ayam jago menandai pagi telah datang menyudahi alunan mimipi-mimpi
penghias tidur, tetesan embun mulai
berhenti walau hanya untuk membasahi kuntum bunga mawar yang mau mekar. Cahaya rembulan
penghias malam berangsur redup seiring fajar memancarkan sinarnya. Pesona subuh
semakin indah ditambah oleh riak-riak kecil air di Tabek Gadang diterpa angin
sepoi-sepoi. Kumandangan azan subuh menyetakkan asa membangkit semangat untuk
kembali menghadap kepadaNya. Dingin udara subuh tak jadi penghalang untuk tetap
berkata denganNya. Harapan semoga kasihNya tetap mengalir. Aamiin jadi kata
penutup ubudiyah pada subuh itu.
Persiapan
berangkat pun dimulai. Merantau menjadi keputusan, tanah Solok jadi pelabuhan
hidup selanjutnya Kas dan keluarga kecilnya. Kita mau kemana Mak (panggilan
anak kepada ibu bagi orang minangkabau) Tanya Upik kepada ibunya yang sedang
mengemas pakaian ke dalam tas. Kita akan pergi jalan-jalan sayang naik bus.
Naik bus mak..? ya sayang (sambil mengajak)
yuk Pik kita mandi lagi. Upik dengan senang hati mengikuti ajakan
maknya. Kas yang sedang berkemas-kemas sambil menikmti secangkir kopi pun ikut
tersenyum kecil mendengar perkataan Ani dan upik anyaknya. Sementara Si Buyung
masih tertidur nyenyak dalam ayunan buayan.
Suara
lonceng Sekolah Dasar Negeri 19 Balai Cubadak menandakan bahwa seluruh
murid-murid untuk memasuki kelas pertanda pelajaran pertama akan segera dimulai,
itu telah menjadi pertanda bagi penduduk hari telah menunjukkan pukul 07.30
pagi. Biasanya aktifitas petani dimulai dari jam itu. Ani..!!! suara seseorang
memanggil Ani dari halaman rumah. Ya.. (sambil menoleh dari jendela).. ada apa
Buk (panggilan di keluarga kepada Kakak Ani) ternyata Buk yang memanggil.
Naiklah jawaban Ani sambil terus menyisir rambut Upik.
Buk
: begini Ani.. !! Menurut saya si Upik tak usah dibawa merantau.
Ani
: Kenapa Buk bicara begitu?? Tanya Ani sambil berkema-kemas.
Buk : Upik sebentar lagi mau sekolah,
mungkin tak sampai setahun lagi tahun ajaran baru di mulai, lagian di rantau
belum tentu lansung dapat bekerja, kami kwatir nanti anak-anakmu menderita di
sana. Nanti kalo kalian sudah merasa cukup untuk keperluan sehari dan bisa
menyekolahkan Upik ya kita pindahkan
sekolah Upik ke sana.
Kas : Mungkin buk mu benar Ani. Kita
belum tentu sampai disana lansung dapat pekerjaan takutnya nanti anak kita
sakit padahal Upik mau sekolah.
Ani : Tapi da. Dia pasti akan merindukan
kita dan dia masih butuh kasih sayang kita da.!!
Kas : iya betul..!! ini bukti sayang
kita kepada Upik. Lagian di sini dia ada Buk yang akan merawatnya, ada Pita,
Rian (dua dari tiga anak Buk) yang akan menjaganya. Saya yakin mereka sanggup
mengasuh Upik.
Buk : Betul Ani..!! kami akan merawat
Upik, dia anak ku juga..!! nanti kami bawa Upik ke SMP (tempat tinggal Buk dan
Keluarganya di Lokasi SMP N 2 Taram yang suaminya bekerja sebagai penjaga
sekolah dan Buk sendiri sebagai penjaga kantin sekalian berjualan makanan
ringan untuk anak-anak SMP).
Ani : Tapi aku tak bisa berpisah dengan
anak kesayanganku.. (sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya).
Kas : Tenanglah Upik akan aman tinggal
bersama Buk, nanti sekali 3 bulan salah satu dari kita pulang untuk bertemu
Upik, atau nanti kalau kita berhasil kita kirimin uang belanja untuk Upik di
sini bersama teman Mamakmu. (berusaha meyakinkan istrinya).
Buk: Upik… sini nak kita ke warung
yuk,!! Kita jajan (berusaha untuk membujuk Upik dan menipunya agar kepergian
Mak dan Bapaknya tidak diketahui upik)..
Kas: ayo nak pergilah bersama Buk. Ke warung
nanti Bukmu beliin jajan yang enak (meyakinkan anaknya dengan suara agak
berat). Sementara Ani hanya bergumam sambil berkata Tiada seorang ibu yang
sanggup berpisah dengan anak yang disayang. Ucapan Ani sambil menghapus air
matanya dengan kain panjang yang biasa dijadikan kain pendukung bayi.
Buk : Ayo Pik.. nanti jajannya keburu
habis (sambil berdiri dan berusaha megendong Upik sembari berusaha menutupi
kesedihannya). Nanti kalian pergi mulailah dengan bismillah dan senyum (nasihat
buk kepada Ani dan Kas.)
Upik:
Ayo lah Buk.. (mengikuti ajakan Buk dengan kepolosannya).
Detak
jarum jam di dinding menunjukkan pukul 08.15 WIB dengan berat hati Ani
meninggalkan buah hatinya dan mencoba melangkah sambil menggendong Si Buyung
dengan kain panjang (Kain panjang batik yang di Minang biasa di gunakan untuk
menggendong bayi). Kas menyandang ransel dan bungkusan kecil di kepalanya sebagai
perbekalan hidup pertama di Solok. Ayunan langkah mereka sempat terhenti sembari
menoreh ke belakang memperhatikan hampir setiap sisi Rumah Gadang (Rumah Adat
khas Minang Kabau) yang selama ini menjadi tempat berteduh dari kepanasan,
berlindung dari hujan, tempat menghabiskan masa-masa kecil, yang kini harus
ditinggalkan demi menatap masa depan bersama suami yang diharapkan lebih cerah
bahkan kalau bisa mampu mengalahkan cerahnya mentari pagi.
Langkah
demi langkah terus diayunkan, terminal Koto Nan Ampek di pusat Kota Payakumbuh
jadi tujuan awal. Tempat ini satu-satunya terminal yang ada bus tujuan
payakumbuh kota Solok. Gontaian langkah mereka sampai di Pakan Taram (pasar
tradisional di Nagari Taram). Tiba-tiba si Buyung menangis, mungkin karena
gerah mentari pagi semakin memperlihatkan garangnya. Kas dan Ani mencari tempat
yang agak teduh dari sinaran menatari. Mereka duduk dibawa pohon mangga di tepi
jalan sembari menunggu Bendi (Delman) yang merupakan satu-satunya alat
transportasi dari Taram ke pusat Kota Payakumbuh. Tak lama kemudian Bendi yang
di tunggu-tunggu datang. Tak tik tuk tak tik tuk suara sepatu kuda menemani
perjalanan menuju terminal yang berjarak lebih kurang 8 KM.
Ani
yang berkaca-kaca seolah-olah tak bersedia meninggalkan Upik menemani lamanya
perjanan. Suara sepatu kuda terhenti di pelataran terminal Koto Nan Ampek kota Payakumbuh.
Ani dan Kas turun dari Bendi dan Kas membayar ongkos kepada Kusir Bendi “ini
pak terima kasih telah mengantarkan kami sampai di sini”. “ ya sama-sama,
hati-hati di rantau orang” jawab Pak Kusir sembari memutar balik Bendinya. Tunggu
di sini sebentar ya kata kas kepada Ani sambil melangkah menuju PO Afmomen
untuk membeli karcis bus. Tak lama kemudian Kas kembali sembari mengangkat
barang “yuk kita naik bus yang berwarna kuning itu, sebentar lagi bus berangkat
kata Kas kepada Istrinya.
Poooooooooooopppp..!!!
suara klakson bus menjadi pertanda tidak beberapa lama lagi perjalan akan
segera di mulai. Kas dan Ani duduk berdampingan dan Si Buyung kini dalam
pangkuan bapaknya. Tak ada percakapan diantara mereka hampir sempanjang
perjalanan. Ani yang masih memikirkan Upik putrinya hanya terdiam seribu bahasa.
Ani yang berkaca-kaca terus memandangi gerak semu setiap benda yang dilihat
dari kaca bus yang terus melaju melewati tikungan, tanjakan, melewati lembah
mendaki perbukitan suasa perjalanan.
Pemandangan
silih berganti dari rerumputan ke pepohonan
hingga lautan lepas menghiasi indahnya perjalanan. Tikungan, perdakian hinga
turunan tajam menghiasi medan jalan melintasi lembah sisi lain dalam perjalan
Payakumbuh - Solok. Tiada suara apa lagi kata, yang ada hanya menguap serta
rasa mengatuk yang menerpa hingga tidur dalam ayunan laju Bus Afmomen.
Pukul
12.00 WIB bus berhenti di depan danau Singkarak, tepian danau telah menjadi
perhentian sesaat bagi para sopir-sopir bus meski hanya sedekar melepas lelah
dari rutinitas memutar stir kemudi atau hanya demi secangkir kopi dan sebatang
rokok. Pemandangan danau dan hembusan bayu membawa kedamaian, suasana yang adem
membawa kenyaman tersendiri. Suara klakson bus menyeruap keheningan suasan
menyuarakan perjalanan akan di mulai lagi. Kas dan Ani kembali duduk
berdampingan, tak berapa lama kemudian Ani buka bicara menghentikan kebisuan
yang telah menerpa mereka dari Payakumbuh ke Danau Singkarak. “Da..! lihat kaki
Si Buyung ada taik lalatnya” mana..? jawab Kas seolah penasaran.. Ini da di
telapak kaki dekap tumitnya sebelah kanan. Sambil terseyum kas menjawab itu
pertanda anak kita akan merantau nanti, dia akan melihat banyak hal di dunia
ini. J
semoga saja ya da.. sambil tersenyum Ani mengamini perkataan suaminya. Do’a
kita untuk Si Buyung semoga hidupnya lebih baik dari pada kehidupan kita saat
ini. Aamiin.
Keasikan
bercerita dalam mimpi-mimpi indah, tak terasa perjalan telah memasuki Kota
Solok. Terminal bareh solok jadi pelabuhan terakhir Bus Afmomen. Sementara
menunggu armada selajutnya Kas dan keluarganya beristirahat sebentar di tampat
tunggu penumpang yang disediakan oleh ihak penglola terminal. “tunggu disini
sebentar ya” uacap Kas kepada Ani “saya ke sana sebentar untuk mencari
informasi naik mobil apa ke daerah Bukit Sile. “ya hati-hati..!! jawab Ani
sambil tersenyum, sementara Si Buyung tertidur pules dalam pengkuan Ibunya.
“jangan lupa beli minuman ya da.!! Sorak Ani mengingatkan suaminya yang telah
manjuh darinya.
Lima
menit kemudian Kas pun datang seraya berkata “sebentar lagi ada mobil yang akan
menju bukit sile, moga jam 4 sore kita sudah sampai”. “kalo begitu masih bisa
kita untuk sholat zhuhur dulu da sekalian jamak untuk azhar” ucapan Ani kepada
suaminya. Ayolah kata Kas sembari menujuk tu disana ada mushalla, ayo kita
kesana. Mereka pun menunaikan ubudiyah sembari berdo’a semoga apa yang menajdi
tujuan tercapai. Aamiin.
Tak
berapa lama setelah selesai sholat mobil pun dating dan perjalana ke bukit sile
pun dimulai. Kali ini mereka duduk di depan di sampir sopir yang mengendalikan
lajunya kendaraan, maklum mobil tumpangan mereka adalah jenis truk muatan
barang-barang dagangan harian ibu-ibu di pasar Solok. Laju truk melintasi
perbukitan akhirnya terhenti di halaman rumah Bu Maisarni, begitu orang-orang
sekitar memanggil nama jurangan tembakau di desa itu. Kas dan keluarnya pun
turun dari truk dan Kas pun membayar uang sebagai ongkos truk. Namun reski
datangnya tidak harus mengetok pintu, sopir itu baik hati dan tidak mau
menerima ongkos kas dan keluarganya Pak sopir beralasan truk itu biasa
digunakan untuk mengangkut barang-barang dagangan dan sudah dibayar oleh para
saudagar, dan pak sopir pun telah biasa member tumpangan kepada orang-orang
yang membutuhkan tumpangan sembari jadi teman cerita di perjalan. Hanya ucapan
terima kasih yang bisa diucapkan Kas dan keluarganya kepada pak sopir yang baik
hati itu.
Assalamu’alaikum…!!!
Tok tok tok (ucapan salam sambil mengetok pintu rumah Bu Maisarni), tak
beberapa saat kemudian pintu pun terbuka sembari “waa’laikum salam” sesorang
membuka pintu rumah. Kas ya..? kata perempuan yang membukakan pintu. Betul Bu
kata kas. “ya silahkan masuk” ucap perempuan itu. Ternyata perempuan itu adalah
Bu Maisarni yang dulu pernah diceritakan oleh Mamak Ani sebelum berangkat untuk
merantau. Keasyikan bercerita dan bincang-bincang seputar perkenalan, azan magrib pun
berkumandang di surau tak beberapa jauh dari ruma Bu Maisarni menyudahi
perbincangan dipenghujung senja.
Nantikan SBY (Si Buyung) episode selanjutnya... akan ada kisah lucu dan sedih menyelimuti masa kanak-kana Si Buyung...!!!!!
Friday, 29 March 2013
It’s My Life
Jangan tanya kemana aku pergi
jangan tanya dimana aku saat ini
jangan tanya apa yang aku cari
aku pergi hanya demi cinta
aku kini di balik puing-uing
cinta yang berderai
aku mencari bekas-bekas asa
yang tersisa
aku melangkah ditemani detak waktu yg berputar
pergantian siang menelusuri malam jadi sahabatku
diterpa rembulan, sinaran
bintang, terik mentari,
cucuran hujan, kebisingan dan debu jalanan sisi lain dari kehidpanku.
Onak dan duri menancap di kaki
tetesan darah menjadi bekas jejak
langkahku
Yang ku tau hanya melangkah maju
Ku yakin sutu hari nanti bekas itu kan
jadi saksi
Kuhabiskan
hidup hari ini dengan cinta
Sembari
menatap hari esok dengan penuh cinta
Padang,
30 Maret 2013
By Yusrizal At Taramy
Tuesday, 26 March 2013
SBY (Si Buyung) Episode I
TANGISAN MALAM HARI
PERTAMA
Taram,
12 September 1988. Malam mulai sunyi dari kebisingan hiruk pikuk aktifitas insan
di bumi dan suara-suara makhluk tuhan di jagad ini. Detak jarum jam di dinding
bambu yang mulai usang menunjukkan pukul 00:00 WIB. Itu menjadi pertanda minggu
telah habis dan Senin pun datang menghampiri. Perjuangan berat Ani (27 tahun) berakhir
dengan suara tangis pertama bayi laki-laki memecah kasunyian malam. Sembari
menghapus deraian air mata di ujung pelupuk matanya, dukun beranak kampung
seraya berkata “anakmu laki-laki dan sehat”Ani!!. Ani hanya tersenyum bahagia.
Kecupan
di kening Ani dari sang suami (Kas) 38 tahun saat itu terasa begitu hangat,
seraya berkata kita sudah mempunyai sepasang buah cinta sayang. Lengkaplah
sudah kebahagiaan yang dirasakan keluarga Kas dan Ani. Tujuh hari berselang
diadakanlah acara turun mandi dan penyemaian nama pada bayi yang baru lahir.
Acara itu cukup meriah yang dihadiri oleh keluarga dekat, family, tetangga dan
segenap penduduk Nagari. “Buyung” nama yang diberikan oleh Mamak (penghulu
suku/kaum di budaya minang kabau) Ani kepada bayi ke duanya yang genap berusia
7 hari. Sambil senyum kecil Kas berkata SBY ya mak!.. ya “Si Buyung” kata mamak
sambil tersenyum kecil.
Hari
demi hari dilalui telah berganti menjadi minggu, minggu pun berlalu menjadi
bulan. Bulan telah berputar pada orbitnya dan kini telah berubah menjadi tahun.
Tahun pun kini mulai memasuki angka bilangan. Dua tahun sudah kini umur Si
Buyung, kehidupan keluarga Kas dan Ani mulai terjepit. Ani yang berkerja
sebagai Ibu rumahtangga dan penjual “karupuak cancang” (istilah untuk makanan
yang terbuat dri Ubi Kayu yang di iris kecil-kecil dan di goreng). Sementara
Kas bekerja sebagai Tukang racit tembakau “buruh tani tembakau”. Krisis ekonomi
moneter mulai menjangkrit dari pusat hingga ke pelosok Nagari di Negeri pertiwi
ini, semua harga barang melonjak naik. Harga-harga naik naik baik itu kebutuhan
sandang sampai kepada kebutuhan perut (makanan sehari-hari). Karupuak cancang kini
mulai tak laku, begitu pula kebutuhan tembakau berkurang, hal ini semakin
membuat keluarga ini terjepit oleh persoalan hidup. Ditambah lagi pendidikan
Upik kakak Si Buyung akan dimulai, rencana tahun depan telah masuk Taman
Kanak-kanak. Terjepit dalam persoalan hidup menghiasi hari keluarga Kas dan
Istrinya serta dua orang buah cinta mereka.
Malam
senin bulan bersinar terang menghiasi indahnya malam, jeritan jengkrik
membuyarkan kesunyian malam. Lambaian nyiur ditertpa bayu di depan rumah
menambah indah pesona malam. Wajah ayu Ani mulai basah oleh air mata. Kas yang
melihat istrinya menangis mendatanginya seraya berkata.
Kas: Sayang!! Kenapa kamu menangis?
(sambil menghapus airmata ani yang membasahi wajah cantik istrinya. Memang Ani
waktu masih gadis dikenal dengan bunga Nagari, berparas cantik dan
berkepribadian elok).
Ani: Da..!! (panggilan seorang adik
kepada kakak laki-laki dan kata ini juga sering di ungkapkan oleh seorang istri
sebagai panggilan untuk suaminya). Apakah hidup ini tidak lagi jadi milik
kita..??
Kas : Sayang..! kok kamu biacara
begitu…?? Apakah aku ada salah denganmu (merasa bersalah)
Ani : Bukan, bukan.!! Uda nggak salah
apa-apa..
Kas : Terus apa yang membuatmu
menetaskan air mata sayang…? (perasaan yang diselimuti tanda Tanya)
Ani : Da..! jika di pikir-pikir hidup
ini semakin berat untuk dijalani. Jangankan untuk menabung, untuk mencukupi
makan 3 x sehari saja tak cukup apalagi si Upik Mau sekolah. (tetesan air mata
jatuh membasahi bibirnya)
Kas : hmmm Sayang!! (sambil kembali
menghapus air mata istrinya). Nanti uda akan bercerita dengan teman-teman uda,
mana tau ada pekerjaan lain yang lebih menjanjikan untuk terus melanjutkan
hidup. Yang penting kita tidak boleh pasrah dan hari demi hari akan kita lalui bersama sayang (kas mencoba meyakinkan
istrinya).
Ani: hmmm =D!!! ya da..!!!.. semoga ada
jalan terbaik untuk kita tempuh ke depannya. (berusaha tersenyum tapi susah)
Kas : aamiin ya rabb!! (sambil megajak
Ani untuk tidur)
Perasaaan
mengantuk mengakhiri perbincangan malam itu. Mereka tertidur dalam mimpi-mimpi
mengharap masa depan yang lebih baik.
Pagi
yang sangat cerah, teratai mulai silau oleh pancaran ultraviolet. Lembaran baru
daun bunga mawar bulai mekar setelah semalam disiramin tetesan embun, kupu-kupu
terbang indah dan hingga di putik bunga kertas seolah-olah tersenyum mendapat
madu. Akan tetapi hal itu berbanding terbalik dengan perasaan Kas. Sunguhan kopi yang hidangkan Ani pun tak
terasa nikmat, padahal kopi ini sama halnya dengan kopi-kopi yang biasa
disuguhkan oleh Ani hampir setiap pagi menyapa dunia. Kopi kini dingin di tadah
seolah-olah kopi dalam gelas berucap “minumlah aku” namun, Kas hanya terpana
memandangi kopi itu yang terlena oleh hitamnya warna kopi, tapi kas tidak tau
apa hasil dari lamunan panjang itu.
Sentuhan
jemari Ani di kain sarung yang melingkari pundak Kas menghentikan lamunan
panjang yang tak menghasilkan apa-apa. Yang ada hanya tatapan kosong yang tak
berarti dan tak dapat dimiliki.
Ani: Kenapa Uda melamun,, hingga kopi di
gelas pun uda diamkan.. apa kopi buat ku mulai tak enak..?
Kas: Hmmm… !!! (sambil menoleh ke arah
istrinya)
Ani: Ada apa Da.!! Kok pertanyaanku tak
uda sahut…?? (Sambil mengambil posisi dan duduk di samping suaminya).
Kas: nggak apa-apa sayang..!! (menjawab sambil
memandangi istrinya dengan tatapan kosong)
Ani: tapi… apa yang membuat uda melamun
begitu panjang sehingga uda tak sadar pagi pun kini telah pergi dan siang telah
menghapiri kita..?
Kas: Apakah hidup ini ataukah beban
hidup semakin berat sehingga bahu ini tak kuasa memikulnya (sambil bergumam)
Ani: mengapa uda berkata begitu..? (Tanya
ani sambil menatap dalam wajah pujaan hati yang kini menemani hidupnya)
Kas: Lihatlah persediaan kita mulai
menipis, aku tak sanggup melihat buah cinta kita menanggung beban berat kehidupan sejak sedini ini. (wajah
penuh kegalauan menghiasi raut muka Kas)
Ani: Uda,…!! Yang penting kita tetap
berusaha (sambil menghpus air mata yang membasahi pelipis matanya), mereka
titipan Ilahi kepada kita, kehadiran mereka adalah anugrah terindah untuk kita,
(mencoba menguatkan suaminya).
Kas: Ya sayang..!!! kita akan tetap
melangkah maju (sambil memandangi istrinya dengan penuh harap yang begitu
dalam).
Allahuakbar allaaahuakbar!!!!!!
Suara
Azan zhuhur dari “Surau Tuo” (nama
untuk surau di Nagari Taram) menjadi pertanda pagi kini telah lenyap dan siang
berganti menyelimuti Nagari. Surau Tuo merupakan satu-satu peniggalan sejarah
peradaban Islam yang konon sejarah Nagari mencatat Surau itu didirikan pada
Abad ke 10 setelah Islam di terima luas oleh penduduk Indonesia yang juga
sejarwan menyebutkan bahwa islam datang ke Taram berawal dari pariaman. Di
samping kiri surau ini terdapat “Tabek Gadang” (Kolam) yang konon dalam sejarah
terdapat ikan besar yang penduduk Nagari pernah melihat ikan itu yang sisiknya
seluas “Niru” (alat untuk menampi beras). Dan di tepi tabek gadang ini juga di
kisahkan seorang ulama yang terkenal keramat. Beliau adalah Syech Ibrahim
Mufti.
Syech
Ibrahim mufti dalam sejarah masyarakat Nagari mengatakan, beliaulah yang orang
pertama sekali membuat aliran Bandar (kali) dari “kepala Badar” (suatu tempat
di kaki bukit di ujung Nagari) yang merupakan sumber air tertua di Nagari itu
yang bermuara di Tabek Gadang. Dari
cerita ini telah menujukkan suatu keramatnya Syech Ibrahim Mufti, betapa tidak
jika kita melihat daerah Taram rasanya janggal bisa air mengalir dari kepala
Bandar ke Tabek gadang, sementara tabek gadang merupakan dataran yang lebih
tinggi dari kepala Bandar. Seharusnya air mengalir dari tabek gadang ke arah
kepala Bandar, ini malah sebaliknya. Air mengali dari Ke pala Bandar ke tabek
gadang yang berjarak lebih kurang 8 KM.
Beliu,
Syech Ibrahim Mufti juga terkenal keramatnya dengan, “bercukur sebelah”.
Ceritanya. Pada musin haji, terjadi kebakaran di kota Makkah pada waktu itu,
sementara beliau Syech Ibrahim Mufti sedang mencukur rambutnya di tepi Tabek
Gadang. Beliau berkata kepada tukang cukur “berhenti sebentar ada kebakaran di Mekkah”
beliau pun raib dari pandangan mata sang tukang cukur Padahal waktu itu beliau
baru bercukur sebelah dari kepalanya saja. Aneh memang, akan tetapi kisah itu terjawab
sudah ketika 2 orang penduduk Nagari pulang dari haji dan itu pun menjadi
sejarah orang Taram yang pertama pergi Haji ke Makkah. Mereka menceritakan “kami
bertemu dengan Ibrahim Mufti di Makkah waktu ikut dalam pemadaman kebakaran di kota
Makkah”. Orang-orang yang mendengarkan pun terheran-heran seolah tak percaya.
Namun, itu nyata dan Syech Ibrahim Mufti pun ikut memberikan kesaksian bahwa
peristiwa itu benar terjadi. Sejak itulah agama Islam mudah dan banyak diterima
oleh penduduk Nagari sampai saat ini 100 % penduduk Nagari Taram memeluk agama
Islam. Makam keramat yang terletak di sisi kanan bagian migrab Surau Tuo ini
yang dipercayai sebagai makan Syech Ibrahim Mufti. Sampai sekarang hampir setiap
hari baik bulan baik orang dari berbagai daerah di Sumbar, Riau dan Jambi
sering berziarah ke Surau Tuo dan Makam Keramat Syech Ibrahim Mufti.
Konon
juga Perdana menteri Malaysia Tahnad Koman pernah belajar Islam di Nagari ini
selama 2 tahun sebelum kembali ke tanah airnya karena kondisi bergejolak melanda
tanah pertiwi pada waktu itu. Sekolah agama Pertama di Nagari Taram MTI
(madrasah Tarbiyah Islamiyah) yang terdiri dari dua tingkatan, yaitu sederajat
SMP dan SMA. Dulu anak-anak tamat SR (sekolah rakyat zaman jepang) bisa
melanjutkan pendidikan di MTI ini. Yang kini MTI ini berubah nama menjadi
Pondok Pesantren Syech Adimin Ar-radji. Nama sekolah ini sendiri di ambil dari
nama pendirinya yaitu Syech Adimin Ar-radji, yang penduduk kampung mengenal
dengan nama Buya Dimin. Sebelum menikah Ani merupakan santriwati di sekolah ini.
Sementara Kas suaminya berasal dari Nagari tetangga Payobasung, yang sekarang
menjadi bagian dari Kota Payakumbuh. Cinta, kasih dan sayang menemukan mereka
yang berbeda asal dalam pernikahan yang boleh di bilang inilah jodoh.
Nagari
ini juga unik, karena di kelilingi oleh angka tujuh (7), pertama: Nagari ini
terdiri dari tujuh Jorong, yaitu Jorong Tanjung Kubang sebagai Pusat
Pemerintahan Nagari, Jorong Balai Cubadak, Jorong Subarang, Jorong Parak Baru,
Jorong Tanjung Atas, Jorong Ganting dan Jorong Sipatai. Kedua, Nagari ini di
huni oleh tujuh suku dalam adat Minang Kabau, yaitu Suku Bodi (chaniago), Suku
Sumpadang, Suku Piliang Gadang, Suku Piliang Lawas, Suku Simabua, Suku
Pitopang, dan Suku Melayu, dan suku-suku ini secara bergantian menjadi pengurus
Surau Tuo selama masing-masing 3 tahun masa jabatan. Tujuh yang ketiga ikut
menghiasi uniknya Nagari ini adalah aliran Batang sinamar yang melintasi sehingga
membelah Nagari ini. Batang Sinamar merupakan muara dari tujuh sungai yang
berbeda, sehingga penduduk Nagari menyebut Batang Sinamar dengan istilah “Sungai
Tujuah Muro”.
Sholat
zhuhur telah di tunaikan, ditutup dengan do’a sembari berharap mendapat
limpahan rezki dari yang maha kaya (Allah SWT). Aamiin.. kalimat itu seolah
terucap berbarengan. Saling lempar senyum pun menghiasi wajah Ani dan Kas
sebagai tanda bakti kepada Tuhan terlaksana.
Tok
tok tok.. assalamu’alaikum..!!! suara pintu di gedor dan ucapan salam
menghentikan senyum diantara mereka, sembari menjawab Wa’alakum salam, tunggu
sebentar.. Ani pun membuka pintu.
Ani: Eh Mamak!!!. naiklah Mak,,,!!
Mamak: Ya.. terimakasih (sambil
melangkah menuju tempat duduk di ruang tamu)
Ani: duduklah mak!! (mengucapkan kata
itu hampir berbarengan dengan Kas suaminya) saya ke belakang sebentar mak..
Mamak: Ya.. ya!! terimakasih Ani..
(sambil menarik kursi yang terdorong ke kolong meja ke belakang dan seraya
duduk).
Mamak: oh sumando!! (panggilan untuk
seorang laki-laki yang menjadi suami di keluarga kerapatan kaum umumnya itu
terjadi di adat minangkabau) Bagimana keadaan kalian di sini.. (sambil
mengarahkan pendangannya ke arah Kas)?
Kas: Alhamdulillah,,, kami sekeluarga di
sini baik-baik saja.. (sebari bertanya) mamak sendiri bagaimana..?
Mamak: Alhamdulilah, mamak pun baik2
saja,
Ani: Minumlah Mak..!! (sambil
menyuguhkan teh manis buatannya dan karupuak cancan sebagai cemilan)..
Mamak: ya terima kasih..
Ani: Tidak bersama etek mamak ke mari..?
Mamak: Tidak.. tadi etek ada keperluan
ke sekolah Budi (anak mamak).. sebenarnya ada yang ingin mamak sampaikan kalian
berdua.
Ani: apa tu mak… (penasaran)!!
Mamak: Mamak mendengar berita kalian
dari orang-orang kampung bahwa kalian terjepit dalam persoalan ekonomi
keluarga.
Kas: ya..!! begitu lah mak.. sudah
sebulai ini dagangan Ani mulai tak ada peminatnya, bergitupun di ladang tembakau..
temakau mulai berkurang peminatnya, dan sekarang orang-orang mulai beralih ke
tanaman lain.
Mamak: begini..!! mamak punya teman di
solok, dia itu mempunyai kebun tembakau yang cukup luas, di samping itu ada
juga cengkeh dan kulit manis,dan lain-lain. Mau kalian ke sana.?
Kas: bagaimana tempat tinggal kami di
sana..?
Mamak: nanti mamak usahakan kepada teman
mamak tu untuk menyediakan tempat tinggal buat kalian, bawa lah istri dan
anakmu ke sana. Mana tau nanti mereka bisa membantu.
Ani: Ya mamak! Kami piker-pikir dulu..
Mamak: baiklah,, kalau begitu mamak
balik dulu,, oh ya jangan lupa dua atau tiga hari ini kasih tau mamak jadi atau
tidaknya. (sambil bersalaman dan pamitan pulang). Assalamu’akum..!!
Ani/Kas: Wa’alaikum salam…
tunggu epiode selanjutnya...!!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)


