Tuesday, 26 March 2013

SBY (Si Buyung) Episode I



TANGISAN MALAM HARI PERTAMA
Taram, 12 September 1988. Malam mulai sunyi dari kebisingan hiruk pikuk aktifitas insan di bumi dan suara-suara makhluk tuhan di jagad ini. Detak jarum jam di dinding bambu yang mulai usang menunjukkan pukul 00:00 WIB. Itu menjadi pertanda minggu telah habis dan Senin pun datang menghampiri. Perjuangan berat Ani (27 tahun) berakhir dengan suara tangis pertama bayi laki-laki memecah kasunyian malam. Sembari menghapus deraian air mata di ujung pelupuk matanya, dukun beranak kampung seraya berkata “anakmu laki-laki dan sehat”Ani!!. Ani hanya tersenyum bahagia.
Kecupan di kening Ani dari sang suami (Kas) 38 tahun saat itu terasa begitu hangat, seraya berkata kita sudah mempunyai sepasang buah cinta sayang. Lengkaplah sudah kebahagiaan yang dirasakan keluarga Kas dan Ani. Tujuh hari berselang diadakanlah acara turun mandi dan penyemaian nama pada bayi yang baru lahir. Acara itu cukup meriah yang dihadiri oleh keluarga dekat, family, tetangga dan segenap penduduk Nagari. “Buyung” nama yang diberikan oleh Mamak (penghulu suku/kaum di budaya minang kabau) Ani kepada bayi ke duanya yang genap berusia 7 hari. Sambil senyum kecil Kas berkata SBY ya mak!.. ya “Si Buyung” kata mamak sambil tersenyum kecil.
Hari demi hari dilalui telah berganti menjadi minggu, minggu pun berlalu menjadi bulan. Bulan telah berputar pada orbitnya dan kini telah berubah menjadi tahun. Tahun pun kini mulai memasuki angka bilangan. Dua tahun sudah kini umur Si Buyung, kehidupan keluarga Kas dan Ani mulai terjepit. Ani yang berkerja sebagai Ibu rumahtangga dan penjual “karupuak cancang” (istilah untuk makanan yang terbuat dri Ubi Kayu yang di iris kecil-kecil dan di goreng). Sementara Kas bekerja sebagai Tukang racit tembakau “buruh tani tembakau”. Krisis ekonomi moneter mulai menjangkrit dari pusat hingga ke pelosok Nagari di Negeri pertiwi ini, semua harga barang melonjak naik. Harga-harga naik naik baik itu kebutuhan sandang sampai kepada kebutuhan perut (makanan sehari-hari). Karupuak cancang kini mulai tak laku, begitu pula kebutuhan tembakau berkurang, hal ini semakin membuat keluarga ini terjepit oleh persoalan hidup. Ditambah lagi pendidikan Upik kakak Si Buyung akan dimulai, rencana tahun depan telah masuk Taman Kanak-kanak. Terjepit dalam persoalan hidup menghiasi hari keluarga Kas dan Istrinya serta dua orang buah cinta mereka.
Malam senin bulan bersinar terang menghiasi indahnya malam, jeritan jengkrik membuyarkan kesunyian malam. Lambaian nyiur ditertpa bayu di depan rumah menambah indah pesona malam. Wajah ayu Ani mulai basah oleh air mata. Kas yang melihat istrinya menangis mendatanginya seraya berkata.
Kas: Sayang!! Kenapa kamu menangis? (sambil menghapus airmata ani yang membasahi wajah cantik istrinya. Memang Ani waktu masih gadis dikenal dengan bunga Nagari, berparas cantik dan berkepribadian elok).
Ani: Da..!! (panggilan seorang adik kepada kakak laki-laki dan kata ini juga sering di ungkapkan oleh seorang istri sebagai panggilan untuk suaminya). Apakah hidup ini tidak lagi jadi milik kita..??
Kas : Sayang..! kok kamu biacara begitu…?? Apakah aku ada salah denganmu (merasa bersalah)
Ani : Bukan, bukan.!! Uda nggak salah apa-apa..
Kas : Terus apa yang membuatmu menetaskan air mata sayang…? (perasaan yang diselimuti tanda Tanya)
Ani : Da..! jika di pikir-pikir hidup ini semakin berat untuk dijalani. Jangankan untuk menabung, untuk mencukupi makan 3 x sehari saja tak cukup apalagi si Upik Mau sekolah. (tetesan air mata jatuh membasahi bibirnya)
Kas : hmmm Sayang!! (sambil kembali menghapus air mata istrinya). Nanti uda akan bercerita dengan teman-teman uda, mana tau ada pekerjaan lain yang lebih menjanjikan untuk terus melanjutkan hidup. Yang penting kita tidak boleh pasrah dan hari demi hari akan  kita lalui bersama sayang (kas mencoba meyakinkan istrinya).
Ani: hmmm =D!!! ya da..!!!.. semoga ada jalan terbaik untuk kita tempuh ke depannya. (berusaha tersenyum tapi susah)
Kas : aamiin ya rabb!! (sambil megajak Ani untuk tidur)
Perasaaan mengantuk mengakhiri perbincangan malam itu. Mereka tertidur dalam mimpi-mimpi mengharap masa depan yang lebih baik.
Pagi yang sangat cerah, teratai mulai silau oleh pancaran ultraviolet. Lembaran baru daun bunga mawar bulai mekar setelah semalam disiramin tetesan embun, kupu-kupu terbang indah dan hingga di putik bunga kertas seolah-olah tersenyum mendapat madu. Akan tetapi hal itu berbanding terbalik dengan perasaan Kas.  Sunguhan kopi yang hidangkan Ani pun tak terasa nikmat, padahal kopi ini sama halnya dengan kopi-kopi yang biasa disuguhkan oleh Ani hampir setiap pagi menyapa dunia. Kopi kini dingin di tadah seolah-olah kopi dalam gelas berucap “minumlah aku” namun, Kas hanya terpana memandangi kopi itu yang terlena oleh hitamnya warna kopi, tapi kas tidak tau apa hasil dari lamunan panjang itu.
Sentuhan jemari Ani di kain sarung yang melingkari pundak Kas menghentikan lamunan panjang yang tak menghasilkan apa-apa. Yang ada hanya tatapan kosong yang tak berarti dan tak dapat dimiliki.
Ani: Kenapa Uda melamun,, hingga kopi di gelas pun uda diamkan.. apa kopi buat ku mulai tak enak..?
Kas: Hmmm… !!! (sambil menoleh ke arah istrinya)
Ani: Ada apa Da.!! Kok pertanyaanku tak uda sahut…?? (Sambil mengambil posisi dan duduk di samping suaminya).
Kas: nggak apa-apa sayang..!! (menjawab sambil memandangi istrinya dengan tatapan kosong)
Ani: tapi… apa yang membuat uda melamun begitu panjang sehingga uda tak sadar pagi pun kini telah pergi dan siang telah menghapiri kita..?
Kas: Apakah hidup ini ataukah beban hidup semakin berat sehingga bahu ini tak kuasa memikulnya (sambil bergumam)
Ani: mengapa uda berkata begitu..? (Tanya ani sambil menatap dalam wajah pujaan hati yang kini menemani hidupnya)
Kas: Lihatlah persediaan kita mulai menipis, aku tak sanggup melihat buah cinta kita menanggung  beban berat kehidupan sejak sedini ini. (wajah penuh kegalauan menghiasi raut muka Kas)
Ani: Uda,…!! Yang penting kita tetap berusaha (sambil menghpus air mata yang membasahi pelipis matanya), mereka titipan Ilahi kepada kita, kehadiran mereka adalah anugrah terindah untuk kita, (mencoba menguatkan suaminya).
Kas: Ya sayang..!!! kita akan tetap melangkah maju (sambil memandangi istrinya dengan penuh harap yang begitu dalam).
Allahuakbar allaaahuakbar!!!!!!
Suara Azan zhuhur dari “Surau Tuo” (nama untuk surau di Nagari Taram) menjadi pertanda pagi kini telah lenyap dan siang berganti menyelimuti Nagari. Surau Tuo merupakan satu-satu peniggalan sejarah peradaban Islam yang konon sejarah Nagari mencatat Surau itu didirikan pada Abad ke 10 setelah Islam di terima luas oleh penduduk Indonesia yang juga sejarwan menyebutkan bahwa islam datang ke Taram berawal dari pariaman. Di samping kiri surau ini terdapat “Tabek Gadang” (Kolam) yang konon dalam sejarah terdapat ikan besar yang penduduk Nagari pernah melihat ikan itu yang sisiknya seluas “Niru” (alat untuk menampi beras). Dan di tepi tabek gadang ini juga di kisahkan seorang ulama yang terkenal keramat. Beliau adalah Syech Ibrahim Mufti.
Syech Ibrahim mufti dalam sejarah masyarakat Nagari mengatakan, beliaulah yang orang pertama sekali membuat aliran Bandar (kali) dari “kepala Badar” (suatu tempat di kaki bukit di ujung Nagari) yang merupakan sumber air tertua di Nagari itu yang bermuara di  Tabek Gadang. Dari cerita ini telah menujukkan suatu keramatnya Syech Ibrahim Mufti, betapa tidak jika kita melihat daerah Taram rasanya janggal bisa air mengalir dari kepala Bandar ke Tabek gadang, sementara tabek gadang merupakan dataran yang lebih tinggi dari kepala Bandar. Seharusnya air mengalir dari tabek gadang ke arah kepala Bandar, ini malah sebaliknya. Air mengali dari Ke pala Bandar ke tabek gadang yang berjarak lebih kurang 8 KM.
Beliu, Syech Ibrahim Mufti juga terkenal keramatnya dengan, “bercukur sebelah”. Ceritanya. Pada musin haji, terjadi kebakaran di kota Makkah pada waktu itu, sementara beliau Syech Ibrahim Mufti sedang mencukur rambutnya di tepi Tabek Gadang. Beliau berkata kepada tukang cukur “berhenti sebentar ada kebakaran di Mekkah” beliau pun raib dari pandangan mata sang tukang cukur Padahal waktu itu beliau baru bercukur sebelah dari kepalanya saja. Aneh memang, akan tetapi kisah itu terjawab sudah ketika 2 orang penduduk Nagari pulang dari haji dan itu pun menjadi sejarah orang Taram yang pertama pergi Haji ke Makkah. Mereka menceritakan “kami bertemu dengan Ibrahim Mufti di Makkah waktu ikut dalam pemadaman kebakaran di kota Makkah”. Orang-orang yang mendengarkan pun terheran-heran seolah tak percaya. Namun, itu nyata dan Syech Ibrahim Mufti pun ikut memberikan kesaksian bahwa peristiwa itu benar terjadi. Sejak itulah agama Islam mudah dan banyak diterima oleh penduduk Nagari sampai saat ini 100 % penduduk Nagari Taram memeluk agama Islam. Makam keramat yang terletak di sisi kanan bagian migrab Surau Tuo ini yang dipercayai sebagai makan Syech Ibrahim Mufti. Sampai sekarang hampir setiap hari baik bulan baik orang dari berbagai daerah di Sumbar, Riau dan Jambi sering berziarah ke Surau Tuo dan Makam Keramat Syech Ibrahim Mufti.
Konon juga Perdana menteri Malaysia Tahnad Koman pernah belajar Islam di Nagari ini selama 2 tahun sebelum kembali ke tanah airnya karena kondisi bergejolak melanda tanah pertiwi pada waktu itu. Sekolah agama Pertama di Nagari Taram MTI (madrasah Tarbiyah Islamiyah) yang terdiri dari dua tingkatan, yaitu sederajat SMP dan SMA. Dulu anak-anak tamat SR (sekolah rakyat zaman jepang) bisa melanjutkan pendidikan di MTI ini. Yang kini MTI ini berubah nama menjadi Pondok Pesantren Syech Adimin Ar-radji. Nama sekolah ini sendiri di ambil dari nama pendirinya yaitu Syech Adimin Ar-radji, yang penduduk kampung mengenal dengan nama Buya Dimin. Sebelum menikah Ani merupakan santriwati di sekolah ini. Sementara Kas suaminya berasal dari Nagari tetangga Payobasung, yang sekarang menjadi bagian dari Kota Payakumbuh. Cinta, kasih dan sayang menemukan mereka yang berbeda asal dalam pernikahan yang boleh di bilang inilah jodoh.
Nagari ini juga unik, karena di kelilingi oleh angka tujuh (7), pertama: Nagari ini terdiri dari tujuh Jorong, yaitu Jorong Tanjung Kubang sebagai Pusat Pemerintahan Nagari, Jorong Balai Cubadak, Jorong Subarang, Jorong Parak Baru, Jorong Tanjung Atas, Jorong Ganting dan Jorong Sipatai. Kedua, Nagari ini di huni oleh tujuh suku dalam adat Minang Kabau, yaitu Suku Bodi (chaniago), Suku Sumpadang, Suku Piliang Gadang, Suku Piliang Lawas, Suku Simabua, Suku Pitopang, dan Suku Melayu, dan suku-suku ini secara bergantian menjadi pengurus Surau Tuo selama masing-masing 3 tahun masa jabatan. Tujuh yang ketiga ikut menghiasi uniknya Nagari ini adalah aliran Batang sinamar yang melintasi sehingga membelah Nagari ini. Batang Sinamar merupakan muara dari tujuh sungai yang berbeda, sehingga penduduk Nagari menyebut Batang Sinamar dengan istilah “Sungai Tujuah Muro”.
Sholat zhuhur telah di tunaikan, ditutup dengan do’a sembari berharap mendapat limpahan rezki dari yang maha kaya (Allah SWT). Aamiin.. kalimat itu seolah terucap berbarengan. Saling lempar senyum pun menghiasi wajah Ani dan Kas sebagai tanda bakti kepada Tuhan terlaksana.
Tok tok tok.. assalamu’alaikum..!!! suara pintu di gedor dan ucapan salam menghentikan senyum diantara mereka, sembari menjawab Wa’alakum salam, tunggu sebentar.. Ani pun membuka pintu.
Ani: Eh Mamak!!!. naiklah Mak,,,!!
Mamak: Ya.. terimakasih (sambil melangkah menuju tempat duduk di ruang tamu)
Ani: duduklah mak!! (mengucapkan kata itu hampir berbarengan dengan Kas suaminya) saya ke belakang sebentar mak..
Mamak: Ya.. ya!! terimakasih Ani.. (sambil menarik kursi yang terdorong ke kolong meja ke belakang dan seraya duduk).
Mamak: oh sumando!! (panggilan untuk seorang laki-laki yang menjadi suami di keluarga kerapatan kaum umumnya itu terjadi di adat minangkabau) Bagimana keadaan kalian di sini.. (sambil mengarahkan pendangannya ke arah Kas)?
Kas: Alhamdulillah,,, kami sekeluarga di sini baik-baik saja.. (sebari bertanya) mamak sendiri bagaimana..?
Mamak: Alhamdulilah, mamak pun baik2 saja,
Ani: Minumlah Mak..!! (sambil menyuguhkan teh manis buatannya dan karupuak cancan sebagai cemilan)..
Mamak: ya terima kasih..
Ani: Tidak bersama etek mamak ke mari..?
Mamak: Tidak.. tadi etek ada keperluan ke sekolah Budi (anak mamak).. sebenarnya ada yang ingin mamak sampaikan kalian berdua.
Ani: apa tu mak… (penasaran)!!
Mamak: Mamak mendengar berita kalian dari orang-orang kampung bahwa kalian terjepit dalam persoalan ekonomi keluarga.
Kas: ya..!! begitu lah mak.. sudah sebulai ini dagangan Ani mulai tak ada peminatnya, bergitupun di ladang tembakau.. temakau mulai berkurang peminatnya, dan sekarang orang-orang mulai beralih ke tanaman lain.
Mamak: begini..!! mamak punya teman di solok, dia itu mempunyai kebun tembakau yang cukup luas, di samping itu ada juga cengkeh dan kulit manis,dan lain-lain. Mau kalian ke sana.?
Kas: bagaimana tempat tinggal kami di sana..?
Mamak: nanti mamak usahakan kepada teman mamak tu untuk menyediakan tempat tinggal buat kalian, bawa lah istri dan anakmu ke sana. Mana tau nanti mereka bisa membantu.
Ani: Ya mamak! Kami piker-pikir dulu..
Mamak: baiklah,, kalau begitu mamak balik dulu,, oh ya jangan lupa dua atau tiga hari ini kasih tau mamak jadi atau tidaknya. (sambil bersalaman dan pamitan pulang). Assalamu’akum..!!
Ani/Kas: Wa’alaikum salam…

tunggu epiode selanjutnya...!!!!

5 comments:

  1. Tulisannya di buat tegak saja bang biar yg baca gak ikut mereeeng... pissss... :)

    semangaaat kakak...

    ReplyDelete
  2. siipp masukan yg bagus..
    insyaallah tulisan berikutnya lebih baik..


    ttapi satu hal.. knp tak ada tanggal ya mas.. lihat blog mas ada tanggalnya..

    ReplyDelete
  3. iya itu di pengaturan tata letak-post blog. ada mas.. di muncuL kan saja...

    ReplyDelete
  4. thanks... your the best friends..

    ReplyDelete
  5. thanks ya dah mapir di blog q, tetap semangat bagi kita

    ReplyDelete