TANGISAN MALAM HARI
PERTAMA
Taram,
12 September 1988. Malam mulai sunyi dari kebisingan hiruk pikuk aktifitas insan
di bumi dan suara-suara makhluk tuhan di jagad ini. Detak jarum jam di dinding
bambu yang mulai usang menunjukkan pukul 00:00 WIB. Itu menjadi pertanda minggu
telah habis dan Senin pun datang menghampiri. Perjuangan berat Ani (27 tahun) berakhir
dengan suara tangis pertama bayi laki-laki memecah kasunyian malam. Sembari
menghapus deraian air mata di ujung pelupuk matanya, dukun beranak kampung
seraya berkata “anakmu laki-laki dan sehat”Ani!!. Ani hanya tersenyum bahagia.
Kecupan
di kening Ani dari sang suami (Kas) 38 tahun saat itu terasa begitu hangat,
seraya berkata kita sudah mempunyai sepasang buah cinta sayang. Lengkaplah
sudah kebahagiaan yang dirasakan keluarga Kas dan Ani. Tujuh hari berselang
diadakanlah acara turun mandi dan penyemaian nama pada bayi yang baru lahir.
Acara itu cukup meriah yang dihadiri oleh keluarga dekat, family, tetangga dan
segenap penduduk Nagari. “Buyung” nama yang diberikan oleh Mamak (penghulu
suku/kaum di budaya minang kabau) Ani kepada bayi ke duanya yang genap berusia
7 hari. Sambil senyum kecil Kas berkata SBY ya mak!.. ya “Si Buyung” kata mamak
sambil tersenyum kecil.
Hari
demi hari dilalui telah berganti menjadi minggu, minggu pun berlalu menjadi
bulan. Bulan telah berputar pada orbitnya dan kini telah berubah menjadi tahun.
Tahun pun kini mulai memasuki angka bilangan. Dua tahun sudah kini umur Si
Buyung, kehidupan keluarga Kas dan Ani mulai terjepit. Ani yang berkerja
sebagai Ibu rumahtangga dan penjual “karupuak cancang” (istilah untuk makanan
yang terbuat dri Ubi Kayu yang di iris kecil-kecil dan di goreng). Sementara
Kas bekerja sebagai Tukang racit tembakau “buruh tani tembakau”. Krisis ekonomi
moneter mulai menjangkrit dari pusat hingga ke pelosok Nagari di Negeri pertiwi
ini, semua harga barang melonjak naik. Harga-harga naik naik baik itu kebutuhan
sandang sampai kepada kebutuhan perut (makanan sehari-hari). Karupuak cancang kini
mulai tak laku, begitu pula kebutuhan tembakau berkurang, hal ini semakin
membuat keluarga ini terjepit oleh persoalan hidup. Ditambah lagi pendidikan
Upik kakak Si Buyung akan dimulai, rencana tahun depan telah masuk Taman
Kanak-kanak. Terjepit dalam persoalan hidup menghiasi hari keluarga Kas dan
Istrinya serta dua orang buah cinta mereka.
Malam
senin bulan bersinar terang menghiasi indahnya malam, jeritan jengkrik
membuyarkan kesunyian malam. Lambaian nyiur ditertpa bayu di depan rumah
menambah indah pesona malam. Wajah ayu Ani mulai basah oleh air mata. Kas yang
melihat istrinya menangis mendatanginya seraya berkata.
Kas: Sayang!! Kenapa kamu menangis?
(sambil menghapus airmata ani yang membasahi wajah cantik istrinya. Memang Ani
waktu masih gadis dikenal dengan bunga Nagari, berparas cantik dan
berkepribadian elok).
Ani: Da..!! (panggilan seorang adik
kepada kakak laki-laki dan kata ini juga sering di ungkapkan oleh seorang istri
sebagai panggilan untuk suaminya). Apakah hidup ini tidak lagi jadi milik
kita..??
Kas : Sayang..! kok kamu biacara
begitu…?? Apakah aku ada salah denganmu (merasa bersalah)
Ani : Bukan, bukan.!! Uda nggak salah
apa-apa..
Kas : Terus apa yang membuatmu
menetaskan air mata sayang…? (perasaan yang diselimuti tanda Tanya)
Ani : Da..! jika di pikir-pikir hidup
ini semakin berat untuk dijalani. Jangankan untuk menabung, untuk mencukupi
makan 3 x sehari saja tak cukup apalagi si Upik Mau sekolah. (tetesan air mata
jatuh membasahi bibirnya)
Kas : hmmm Sayang!! (sambil kembali
menghapus air mata istrinya). Nanti uda akan bercerita dengan teman-teman uda,
mana tau ada pekerjaan lain yang lebih menjanjikan untuk terus melanjutkan
hidup. Yang penting kita tidak boleh pasrah dan hari demi hari akan kita lalui bersama sayang (kas mencoba meyakinkan
istrinya).
Ani: hmmm =D!!! ya da..!!!.. semoga ada
jalan terbaik untuk kita tempuh ke depannya. (berusaha tersenyum tapi susah)
Kas : aamiin ya rabb!! (sambil megajak
Ani untuk tidur)
Perasaaan
mengantuk mengakhiri perbincangan malam itu. Mereka tertidur dalam mimpi-mimpi
mengharap masa depan yang lebih baik.
Pagi
yang sangat cerah, teratai mulai silau oleh pancaran ultraviolet. Lembaran baru
daun bunga mawar bulai mekar setelah semalam disiramin tetesan embun, kupu-kupu
terbang indah dan hingga di putik bunga kertas seolah-olah tersenyum mendapat
madu. Akan tetapi hal itu berbanding terbalik dengan perasaan Kas. Sunguhan kopi yang hidangkan Ani pun tak
terasa nikmat, padahal kopi ini sama halnya dengan kopi-kopi yang biasa
disuguhkan oleh Ani hampir setiap pagi menyapa dunia. Kopi kini dingin di tadah
seolah-olah kopi dalam gelas berucap “minumlah aku” namun, Kas hanya terpana
memandangi kopi itu yang terlena oleh hitamnya warna kopi, tapi kas tidak tau
apa hasil dari lamunan panjang itu.
Sentuhan
jemari Ani di kain sarung yang melingkari pundak Kas menghentikan lamunan
panjang yang tak menghasilkan apa-apa. Yang ada hanya tatapan kosong yang tak
berarti dan tak dapat dimiliki.
Ani: Kenapa Uda melamun,, hingga kopi di
gelas pun uda diamkan.. apa kopi buat ku mulai tak enak..?
Kas: Hmmm… !!! (sambil menoleh ke arah
istrinya)
Ani: Ada apa Da.!! Kok pertanyaanku tak
uda sahut…?? (Sambil mengambil posisi dan duduk di samping suaminya).
Kas: nggak apa-apa sayang..!! (menjawab sambil
memandangi istrinya dengan tatapan kosong)
Ani: tapi… apa yang membuat uda melamun
begitu panjang sehingga uda tak sadar pagi pun kini telah pergi dan siang telah
menghapiri kita..?
Kas: Apakah hidup ini ataukah beban
hidup semakin berat sehingga bahu ini tak kuasa memikulnya (sambil bergumam)
Ani: mengapa uda berkata begitu..? (Tanya
ani sambil menatap dalam wajah pujaan hati yang kini menemani hidupnya)
Kas: Lihatlah persediaan kita mulai
menipis, aku tak sanggup melihat buah cinta kita menanggung beban berat kehidupan sejak sedini ini. (wajah
penuh kegalauan menghiasi raut muka Kas)
Ani: Uda,…!! Yang penting kita tetap
berusaha (sambil menghpus air mata yang membasahi pelipis matanya), mereka
titipan Ilahi kepada kita, kehadiran mereka adalah anugrah terindah untuk kita,
(mencoba menguatkan suaminya).
Kas: Ya sayang..!!! kita akan tetap
melangkah maju (sambil memandangi istrinya dengan penuh harap yang begitu
dalam).
Allahuakbar allaaahuakbar!!!!!!
Suara
Azan zhuhur dari “Surau Tuo” (nama
untuk surau di Nagari Taram) menjadi pertanda pagi kini telah lenyap dan siang
berganti menyelimuti Nagari. Surau Tuo merupakan satu-satu peniggalan sejarah
peradaban Islam yang konon sejarah Nagari mencatat Surau itu didirikan pada
Abad ke 10 setelah Islam di terima luas oleh penduduk Indonesia yang juga
sejarwan menyebutkan bahwa islam datang ke Taram berawal dari pariaman. Di
samping kiri surau ini terdapat “Tabek Gadang” (Kolam) yang konon dalam sejarah
terdapat ikan besar yang penduduk Nagari pernah melihat ikan itu yang sisiknya
seluas “Niru” (alat untuk menampi beras). Dan di tepi tabek gadang ini juga di
kisahkan seorang ulama yang terkenal keramat. Beliau adalah Syech Ibrahim
Mufti.
Syech
Ibrahim mufti dalam sejarah masyarakat Nagari mengatakan, beliaulah yang orang
pertama sekali membuat aliran Bandar (kali) dari “kepala Badar” (suatu tempat
di kaki bukit di ujung Nagari) yang merupakan sumber air tertua di Nagari itu
yang bermuara di Tabek Gadang. Dari
cerita ini telah menujukkan suatu keramatnya Syech Ibrahim Mufti, betapa tidak
jika kita melihat daerah Taram rasanya janggal bisa air mengalir dari kepala
Bandar ke Tabek gadang, sementara tabek gadang merupakan dataran yang lebih
tinggi dari kepala Bandar. Seharusnya air mengalir dari tabek gadang ke arah
kepala Bandar, ini malah sebaliknya. Air mengali dari Ke pala Bandar ke tabek
gadang yang berjarak lebih kurang 8 KM.
Beliu,
Syech Ibrahim Mufti juga terkenal keramatnya dengan, “bercukur sebelah”.
Ceritanya. Pada musin haji, terjadi kebakaran di kota Makkah pada waktu itu,
sementara beliau Syech Ibrahim Mufti sedang mencukur rambutnya di tepi Tabek
Gadang. Beliau berkata kepada tukang cukur “berhenti sebentar ada kebakaran di Mekkah”
beliau pun raib dari pandangan mata sang tukang cukur Padahal waktu itu beliau
baru bercukur sebelah dari kepalanya saja. Aneh memang, akan tetapi kisah itu terjawab
sudah ketika 2 orang penduduk Nagari pulang dari haji dan itu pun menjadi
sejarah orang Taram yang pertama pergi Haji ke Makkah. Mereka menceritakan “kami
bertemu dengan Ibrahim Mufti di Makkah waktu ikut dalam pemadaman kebakaran di kota
Makkah”. Orang-orang yang mendengarkan pun terheran-heran seolah tak percaya.
Namun, itu nyata dan Syech Ibrahim Mufti pun ikut memberikan kesaksian bahwa
peristiwa itu benar terjadi. Sejak itulah agama Islam mudah dan banyak diterima
oleh penduduk Nagari sampai saat ini 100 % penduduk Nagari Taram memeluk agama
Islam. Makam keramat yang terletak di sisi kanan bagian migrab Surau Tuo ini
yang dipercayai sebagai makan Syech Ibrahim Mufti. Sampai sekarang hampir setiap
hari baik bulan baik orang dari berbagai daerah di Sumbar, Riau dan Jambi
sering berziarah ke Surau Tuo dan Makam Keramat Syech Ibrahim Mufti.
Konon
juga Perdana menteri Malaysia Tahnad Koman pernah belajar Islam di Nagari ini
selama 2 tahun sebelum kembali ke tanah airnya karena kondisi bergejolak melanda
tanah pertiwi pada waktu itu. Sekolah agama Pertama di Nagari Taram MTI
(madrasah Tarbiyah Islamiyah) yang terdiri dari dua tingkatan, yaitu sederajat
SMP dan SMA. Dulu anak-anak tamat SR (sekolah rakyat zaman jepang) bisa
melanjutkan pendidikan di MTI ini. Yang kini MTI ini berubah nama menjadi
Pondok Pesantren Syech Adimin Ar-radji. Nama sekolah ini sendiri di ambil dari
nama pendirinya yaitu Syech Adimin Ar-radji, yang penduduk kampung mengenal
dengan nama Buya Dimin. Sebelum menikah Ani merupakan santriwati di sekolah ini.
Sementara Kas suaminya berasal dari Nagari tetangga Payobasung, yang sekarang
menjadi bagian dari Kota Payakumbuh. Cinta, kasih dan sayang menemukan mereka
yang berbeda asal dalam pernikahan yang boleh di bilang inilah jodoh.
Nagari
ini juga unik, karena di kelilingi oleh angka tujuh (7), pertama: Nagari ini
terdiri dari tujuh Jorong, yaitu Jorong Tanjung Kubang sebagai Pusat
Pemerintahan Nagari, Jorong Balai Cubadak, Jorong Subarang, Jorong Parak Baru,
Jorong Tanjung Atas, Jorong Ganting dan Jorong Sipatai. Kedua, Nagari ini di
huni oleh tujuh suku dalam adat Minang Kabau, yaitu Suku Bodi (chaniago), Suku
Sumpadang, Suku Piliang Gadang, Suku Piliang Lawas, Suku Simabua, Suku
Pitopang, dan Suku Melayu, dan suku-suku ini secara bergantian menjadi pengurus
Surau Tuo selama masing-masing 3 tahun masa jabatan. Tujuh yang ketiga ikut
menghiasi uniknya Nagari ini adalah aliran Batang sinamar yang melintasi sehingga
membelah Nagari ini. Batang Sinamar merupakan muara dari tujuh sungai yang
berbeda, sehingga penduduk Nagari menyebut Batang Sinamar dengan istilah “Sungai
Tujuah Muro”.
Sholat
zhuhur telah di tunaikan, ditutup dengan do’a sembari berharap mendapat
limpahan rezki dari yang maha kaya (Allah SWT). Aamiin.. kalimat itu seolah
terucap berbarengan. Saling lempar senyum pun menghiasi wajah Ani dan Kas
sebagai tanda bakti kepada Tuhan terlaksana.
Tok
tok tok.. assalamu’alaikum..!!! suara pintu di gedor dan ucapan salam
menghentikan senyum diantara mereka, sembari menjawab Wa’alakum salam, tunggu
sebentar.. Ani pun membuka pintu.
Ani: Eh Mamak!!!. naiklah Mak,,,!!
Mamak: Ya.. terimakasih (sambil
melangkah menuju tempat duduk di ruang tamu)
Ani: duduklah mak!! (mengucapkan kata
itu hampir berbarengan dengan Kas suaminya) saya ke belakang sebentar mak..
Mamak: Ya.. ya!! terimakasih Ani..
(sambil menarik kursi yang terdorong ke kolong meja ke belakang dan seraya
duduk).
Mamak: oh sumando!! (panggilan untuk
seorang laki-laki yang menjadi suami di keluarga kerapatan kaum umumnya itu
terjadi di adat minangkabau) Bagimana keadaan kalian di sini.. (sambil
mengarahkan pendangannya ke arah Kas)?
Kas: Alhamdulillah,,, kami sekeluarga di
sini baik-baik saja.. (sebari bertanya) mamak sendiri bagaimana..?
Mamak: Alhamdulilah, mamak pun baik2
saja,
Ani: Minumlah Mak..!! (sambil
menyuguhkan teh manis buatannya dan karupuak cancan sebagai cemilan)..
Mamak: ya terima kasih..
Ani: Tidak bersama etek mamak ke mari..?
Mamak: Tidak.. tadi etek ada keperluan
ke sekolah Budi (anak mamak).. sebenarnya ada yang ingin mamak sampaikan kalian
berdua.
Ani: apa tu mak… (penasaran)!!
Mamak: Mamak mendengar berita kalian
dari orang-orang kampung bahwa kalian terjepit dalam persoalan ekonomi
keluarga.
Kas: ya..!! begitu lah mak.. sudah
sebulai ini dagangan Ani mulai tak ada peminatnya, bergitupun di ladang tembakau..
temakau mulai berkurang peminatnya, dan sekarang orang-orang mulai beralih ke
tanaman lain.
Mamak: begini..!! mamak punya teman di
solok, dia itu mempunyai kebun tembakau yang cukup luas, di samping itu ada
juga cengkeh dan kulit manis,dan lain-lain. Mau kalian ke sana.?
Kas: bagaimana tempat tinggal kami di
sana..?
Mamak: nanti mamak usahakan kepada teman
mamak tu untuk menyediakan tempat tinggal buat kalian, bawa lah istri dan
anakmu ke sana. Mana tau nanti mereka bisa membantu.
Ani: Ya mamak! Kami piker-pikir dulu..
Mamak: baiklah,, kalau begitu mamak
balik dulu,, oh ya jangan lupa dua atau tiga hari ini kasih tau mamak jadi atau
tidaknya. (sambil bersalaman dan pamitan pulang). Assalamu’akum..!!
Ani/Kas: Wa’alaikum salam…
tunggu epiode selanjutnya...!!!!
Tulisannya di buat tegak saja bang biar yg baca gak ikut mereeeng... pissss... :)
ReplyDeletesemangaaat kakak...
siipp masukan yg bagus..
ReplyDeleteinsyaallah tulisan berikutnya lebih baik..
ttapi satu hal.. knp tak ada tanggal ya mas.. lihat blog mas ada tanggalnya..
iya itu di pengaturan tata letak-post blog. ada mas.. di muncuL kan saja...
ReplyDeletethanks... your the best friends..
ReplyDeletethanks ya dah mapir di blog q, tetap semangat bagi kita
ReplyDelete